Siapa sangka, sebuah negeri di Amerika Latin yang selama bertahun-tahun berdiri sebagai penentang keras kebijakan Amerika Serikat—bahkan menjadi pelindung Julian Assange saat diburu dunia Barat—justru menjadikan mata uang negara tersebut sebagai instrumen ekonomi utamanya. Sejak tahun 2000, dolar AS resmi berlaku di Ekuador. Kontradiksi antara sikap politik yang vokal dan realitas ekonomi yang pragmatis ini menempatkan Ekuador dalam posisi yang unik di kawasan tersebut.
Tapi ini bukan cerita tentang geopolitik. Ini cerita tentang bagaimana sebuah negara yang nyaris tak dikenal—Indonesia—perlahan “ditemukan” oleh Ekuador, lewat kerja seorang diplomat perempuan yang memilih jalan yang jarang ditempuh: bukan lewat dokumen dan protokol, tapi lewat dapur, kain, dan silaturahmi.
Namanya Diennaryati Tjokrosuprihatono—Duta Besar RI untuk Ekuador periode 2016–2020, dan cucu dari salah satu pahlawan nasional Indonesia, Mohammad Husni Thamrin. Dalam berbagai kesempatan, termasuk perbincangan di Yahya & Yahya With The Ambassadors, ia membagikan kisah tentang bagaimana ia harus membangun pengenalan Indonesia di sebuah negeri yang, di titik awal masa tugasnya, nyaris tidak tahu Indonesia itu ada di mana.
Sulit membayangkan menjadi wakil sebuah bangsa berpenduduk lebih dari 260 juta jiwa, namun harus memperkenalkannya dari nol sama sekali. Itulah yang dihadapi Ibu Dien ketika tiba di Quito.
Dalam sebuah wawancara dengan Bisnis.com, ia mengungkapkan betapa minimnya pengenalan publik Ekuador terhadap Indonesia kala itu—sebagian masyarakat bahkan mengira Indonesia adalah bagian dari Singapura, India, atau Malaysia. Sebagian kecil pernah mendengar atau berkunjung ke Bali, tapi tidak menyadari bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia. Membangun kesadaran akan identitas Indonesia yang utuh, katanya, menjadi salah satu misi utama yang ingin ia bangun sebagai katalisator hubungan ekonomi, politik, dan sosial budaya kedua negara.
“Masyarakat Ekuador mengira bahwa Indonesia adalah bagian dari Singapura, India, atau malah Malaysia.”
— Diennaryati Tjokrosuprihatono, kepada Bisnis.com (2018)Tantangan ini diperberat oleh fakta bahwa hubungan diplomatik Indonesia–Ekuador, meski sudah terjalin sejak 1980, baru benar-benar “hidup” ketika perwakilan RI di Quito dibuka pada 2010—dengan perwakilan Ekuador di Jakarta baru dibuka pada 2004. Ibu Dien sendiri adalah duta besar kedua yang ditempatkan di sana, dengan komunitas diaspora Indonesia yang saat itu hanya berjumlah sekitar 50–59 orang—mayoritas staf lokal kedutaan dan misionaris yang tersebar di berbagai pelosok negeri.
Alih-alih memulai dari ruang rapat, Ibu Dien memilih memulai dari sesuatu yang jauh lebih dekat dengan hati manusia: makanan.
Ia membawa serta koki-koki Indonesia untuk tampil di festival kuliner di Ekuador, dan menyaksikan sendiri betapa besarnya rasa penasaran warga setempat terhadap masakan Nusantara. Bukan sekadar unjuk rasa, ia bahkan meninggalkan kokinya di sana untuk mengajari koki-koki lokal cara memasak hidangan Indonesia. Rendang, mi goreng, dan mi tektek pun menjadi beberapa menu Indonesia yang mulai digemari warga Ekuador.
Riset kecilnya soal selera lokal pun menghasilkan temuan yang menggemaskan: makanan pokok masyarakat Ekuador adalah pisang, alpukat, dan jagung—namun anehnya, ketiganya justru dikategorikan sebagai sayur dalam kebiasaan kuliner setempat, bukan buah seperti anggapan umum kita. Dari titik pijak itulah lahir menu-menu yang belakangan sukses “menaklukkan” lidah Ekuador, salah satunya ayam kremes—hidangan yang menurut laporan Kompas.com berhasil membuat warga Ekuador takjub.
Dampaknya terasa nyata di luar meja makan. Toko-toko kerajinan tangan Indonesia mulai bermunculan di Quito dan Guayaquil, menjual furnitur, lukisan, hingga pernak-pernik berkualitas. Ibu Dien menggambarkannya bukan sebagai toko kecil pinggir jalan, melainkan gerai-gerai mewah yang membuatnya bangga.
Puncak dari strategi budaya ini terlihat jelas dalam gelaran “Wonderful Indonesian Week” bertema Bali Exotic yang digelar di Hotel Hilton Colon, Guayaquil, pada 11–15 Juli 2018. Acara ini disponsori penuh oleh hotel tersebut—mulai dari kamar untuk seluruh peserta hingga bahan makanan dan promosi.
Sekitar 80 orang, termasuk para pengusaha travel, menghadiri pembukaan acara yang turut dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Guayaquil, Ricardo Armijos. Sepanjang lima hari acara berlangsung, lebih dari 350 orang tercatat menyantap makan malam Indonesia dengan tiket 45 dolar AS per orang, sembari larut dalam tarian poco-poco, sajojo, dan gemufamire hingga tengah malam. Tak sedikit pengunjung dan pelaku usaha Ekuador yang pulang membawa keinginan baru: suatu hari nanti, menginjakkan kaki di Bali.
Kerja keras ini kemudian diganjar pengakuan resmi. Pada Juli 2018, dalam ajang “The Gala of the Great Ones” di Universitas Espiritu Santo, Konfederasi Jurnalis Ekuador menganugerahi Ibu Dien predikat “Duta Besar Internasional Terbaik” sekaligus Eloy Alfaro Award, atas perannya yang aktif membangun hubungan bilateral kedua negara. Ia juga tercatat menerima Primaduta Award dari Kementerian Perdagangan RI pada tahun yang sama, atas peran KBRI Quito mendorong ekspor produk Indonesia ke Ekuador.
Diplomasi budaya Ibu Dien juga merambah ke ranah kriya, lewat kerja sama sister city antara Bandung dan Cuenca yang diresmikan pada 2017 di bawah kesaksiannya langsung. Dari kolaborasi ini lahir sebuah karya simbolis: motif batik “Semenan Venus Valdivia”, perpaduan antara motif truntum—lambang cinta tulus dan abadi dalam filosofi Jawa—dengan Venus of Valdivia, ikon kesuburan dalam budaya Ekuador kuno. Kolaborasi ini juga menghadirkan pengiriman robot angklung dari Bandung sebagai persembahan seni, serta melibatkan pelajar Cuenca dalam mengkurasi produk UMKM Bandung untuk dipamerkan dalam festival kerajinan CIDAP 2017.
Sisi lain dari pendekatan humanis Ibu Dien terlihat dari caranya merangkul komunitas lintas agama. Pada Juni 2017, ia bersama masyarakat Indonesia di Quito menggelar salat Id bersama komunitas Muslim Ekuador di Masjid As-Salam, dilanjutkan dengan open house dan halal bihalal di Wisma Duta RI yang turut dihadiri pejabat pemerintah, seniman, pebisnis, hingga sejumlah chef ternama Ekuador. Acara ini bahkan dihadiri mantan Duta Besar Ekuador untuk Indonesia, yang mengaku rindu suasana kekeluargaan dan hidangan khas Lebaran yang pernah ia nikmati semasa bertugas di Jakarta.
Di balik gemerlap festival dan penghargaan, diplomasi Ibu Dien juga menghadapi kendala nyata yang jarang tersorot media. Dalam wawancaranya dengan Bisnis.com, ia mengakui bahwa kebijakan safeguard (pengamanan dagang) yang diterapkan Ekuador sempat menjadi hambatan bagi kemitraan dagang kedua negara—sebuah pengingat bahwa di balik hangatnya diplomasi budaya, tugas seorang duta besar tetap harus bergulat dengan realitas kepentingan ekonomi yang tidak selalu mudah. Pada Desember 2018, Indonesia dan Ekuador akhirnya menggelar pertemuan Working Group on Trade and Investment bilateral pertama mereka, sebagai langkah konkret mendorong kerja sama perdagangan dan investasi yang lebih serius.
Ekuador mungkin terasa jauh—negeri yang sebagian besar dari kita baru dengar namanya lewat berita evolusi Darwin atau Piala Dunia. Namun kisah Ibu Dien menunjukkan bahwa jarak geografis bukan penghalang mutlak bagi dua bangsa untuk saling mengenal, asal ada kemauan untuk turun ke akar rumput: menyantap makanan lokal, mempelajari apa yang membuat masyarakatnya bangga, lalu menawarkan sepotong identitas bangsa sendiri sebagai balasannya.
Dari puluhan orang diaspora dan sebuah negara yang menyangka Indonesia bagian dari Malaysia, hingga toko kerajinan mewah di Quito dan ratusan warga Ekuador yang menari poco-poco di Guayaquil—perjalanan empat tahun ini adalah bukti bahwa diplomasi paling efektif kerap kali bukan yang paling formal, melainkan yang paling manusiawi.
Kisah ini disarikan dari perbincangan mendalam bersama Diennaryati Tjokrosuprihatono di Yahya & Yahya With The Ambassadors. Saksikan episode lengkapnya di bawah ini untuk mendengar langsung dari sang Duta Besar.
Yahya & Yahya With The Ambassadors — Diennaryati Tjokrosuprihatono, Duta Besar RI untuk Ekuador (2016–2020).
Catatan editorial: artikel ini disusun dari liputan media resmi dan dokumen akademik yang dapat diverifikasi secara publik. Kutipan dari wawancara video digunakan sebagai konteks pelengkap narasi.
