Selama empat tahun bertugas di Budapest, Wening tidak hanya fokus memperkuat kerja sama perdagangan. Ia juga mengamati kehidupan kultural masyarakat setempat dengan seksama. Di balik keindahan arsitektur kota yang megah, ia melihat satu kebiasaan yang sangat kuat dalam kehidupan keluarga Hungaria: tradisi orang tua mendongeng untuk anak-anak mereka sebelum tidur.
Bagi Wening, tradisi keluarga ini merupakan peluang emas yang belum dimanfaatkan secara maksimal dalam diplomasi budaya. Ia memiliki gagasan agar para pendongeng di sana bisa datang langsung ke Indonesia. Dengan melihat kemegahan Candi Borobudur atau keunikan budaya Bali secara langsung, mereka dapat meramu pengalaman tersebut kedalam cerita pengantar tidur yang memikat bagi anak-anak di Budapest.

"Tradisi mendongeng sebelum tidur yang mengakar kuat di tengah masyarakat Hungaria menginspirasi saya untuk mengundang para pendongeng dari sana agar datang langsung ke Indonesia. Melalui kunjungan ke tempat-tempat ikonik seperti Borobudur, Bali, dan destinasi lainnya, langkah kultural ini diharapkan menjadi fondasi investasi jangka panjang yang berkelanjutan bagi masa depan kedua bangsa."
Mengingat masih terbatasnya informasi mengenai Indonesia di berbagai wilayah Hungaria, pendekatan melalui jalur emosional dan budaya (soft power) dinilai jauh lebih efektif dibandingkan promosi komersial yang kaku. Langkah ini bukan sekadar mengenalkan pariwisata, melainkan menanamkan memori positif di dalam benak generasi muda mereka.
Meski masa baktinya telah usai, gagasan dari Wening ini meninggalkan pesan berharga tentang bagaimana sebuah negara diperkenalkan ke kancah global. Lewat cerita sederhana yang mengakar sejak kecil, ikatan emosional jangka panjang dapat terbangun, melahirkan generasi masa depan yang tulus mencintai Indonesia.