Di salah satu ruang Kedutaan Besar Republik Indonesia, seorang duta besar sedang menulis sesuatu — bukan kawat diplomatik, melainkan kolom yang akan ia baca ulang sendiri esok pagi. Rekan-rekan diplomatnya dari Eropa Tengah biasa menyapanya setengah bercanda, setengah hormat: "koresponden luar biasa dan berkuasa penuh."
Julukan itu bukan tanpa sebab. Hazairin Pohan memang bukan diplomat kebanyakan. Jauh sebelum jas resmi dan surat kepercayaan presiden menempel pada namanya, ia lebih dulu jadi wartawan muda di Harian Waspada, Medan — kota yang mengajarinya satu hal penting: berita yang baik selalu dimulai dari mendengarkan, bukan berbicara. Kebiasaan itulah yang kelak ia bawa ke meja-meja perundingan di Moskow, Sofia, New York, hingga akhirnya Warsawa.
Anak Ketujuh dari Tiga Belas Bersaudara
Hazairin Pohan lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 12 November 1953 — anak ketujuh dari tiga belas bersaudara pasangan H. Abdul Muthalib Pohan, seorang wartawan sekaligus guru bahasa Inggris. Dari rumah itu, tinta seakan mengalir ke lebih dari satu anak: adiknya, Ramadhan Pohan, kelak juga menempuh jalur jurnalistik di kelompok Jawa Pos sebelum menjadi Pemimpin Redaksi Jurnal Nasional — dan kini justru menjadi pendiri sekaligus CEO KBA News, media tempat Hazairin sampai hari ini rutin bicara soal geopolitik dunia. Warisan darah wartawan itu, rupanya, tidak berhenti di satu generasi saja.
Warisan itu membentuk arah hidupnya lebih jauh dari yang ia duga. Sempat bercita-cita jadi pengacara, ia menuntaskan pendidikan hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan — sembari ikut menerbitkan surat kabar kampus "Panta Rhei", cikal bakal kebiasaan menulisnya yang tak pernah benar-benar berhenti. Tapi seperti yang sering terjadi pada orang dengan rasa ingin tahu besar, jalannya berbelok ke arah yang tak sepenuhnya ia rencanakan sendiri.
Belajar Menulis di Waspada Medan
Pertengahan dekade 1970-an, tepatnya 1975–1976, nama Hazairin Pohan mulai dikenal di ruang redaksi Waspada — salah satu harian tertua dan paling dihormati di Sumatera Utara. Di sanalah ia jadi wartawan muda yang menonjol, belajar langsung dari para senior yang selalu ia sebut dengan hormat, termasuk gurunya, almarhum Moh. Said.
Baginya, jurnalisme bukan sekadar profesi mengejar tenggat. Itu cara membaca dunia: mendekati sumber tanpa prasangka, memverifikasi sebelum menyimpulkan, menulis dengan tanggung jawab kepada pembaca. Prinsip itu tidak pernah benar-benar ia tinggalkan, bahkan setelah jabatannya berubah dari reporter lapangan jadi wakil resmi negara.
Ia mengagumi nama-nama besar jurnalisme dan sastra Indonesia — Mochtar Lubis, H. Mahbub Djunaidi, Pramoedya Ananta Toer — sosok yang membuktikan bahwa kata-kata bisa jadi bentuk perjuangan tersendiri. Kekaguman itu tak pernah pudar, bahkan setelah namanya diawali gelar "Yang Mulia."
Dari Deplu ke Empat Penjuru Dunia
Setelah lulus dari Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu), Hazairin Pohan resmi menapaki karier sebagai diplomat di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia. Jalan itu membawanya berpindah dari satu ibu kota ke ibu kota lain, masing-masing dengan babak geopolitiknya sendiri.
Penempatan di Moskow dan Sofia jatuh pada masa ketika peta politik Eropa Timur tengah bergeser besar-besaran pasca-Perang Dingin — semacam laboratorium diplomasi yang menuntut kejelian membaca sinyal kecil sebelum ia berubah jadi peristiwa besar. Di New York, ia menangani isu politik Indonesia di forum multilateral PBB, tempat kepentingan negara-negara besar dunia bertemu di satu meja yang sama.
Pada 2002, ia dipercaya memimpin Direktorat Eropa Tengah dan Timur di Kementerian Luar Negeri — mempertemukan pengalaman lapangannya di kawasan itu dengan tanggung jawab merumuskan kebijakan. Empat tahun berselang, Oktober 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantiknya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Republik Polandia — jabatan puncak yang ia emban hingga 2010.
- Nama Lengkap
- Hazairin Pohan, S.H., M.A.
- Lahir
- Pematang Siantar, 12 November 1953
- Latar Keluarga
- Anak ke-7 dari 13 bersaudara; ayah H. Abdul Muthalib Pohan, wartawan & guru bahasa Inggris
- Pendidikan Hukum
- Universitas Sumatera Utara, Medan
- Pendidikan Magister
- Hukum Internasional, University of Washington, Seattle, AS
- Masa Tugas sebagai Dubes
- 2006–2010, Republik Polandia
- Awal Karier
- Wartawan, Harian Waspada, Medan (1975–1976)
- Jabatan Lain
- Kepala Pusdiklat Kementerian Luar Negeri (2012)
Catatan redaksi: sejumlah rujukan biografis mencantumkan penghargaan Commander's Cross of the Order of Merit of the Republic of Poland atas namanya. Detail ini belum kami temukan pada sumber primer dan sebaiknya dikonfirmasi ke Kedutaan Besar RI Warsawa atau Kemlu RI sebelum dikutip sebagai fakta final.
Ketika Wartawan Jadi Diplomat
Ada satu jenis kepekaan yang tidak diajarkan di sekolah dinas luar negeri manapun: naluri untuk tahu kapan sebuah jawaban diplomatis sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih penting dari yang diucapkan. Itulah yang dibawa Hazairin Pohan dari ruang redaksi ke ruang perundingan.
Wartawan dilatih mendengar lebih lama daripada bicara, mengonfirmasi sebelum menyimpulkan, menahan opini sebelum fakta lengkap di tangan. Ketiganya kebetulan juga jadi kompetensi inti seorang negosiator ulung. Sepanjang kariernya, Pohan tercatat memimpin delegasi Indonesia dalam lebih dari 200 perundingan bilateral dan multilateral — jumlah yang tak banyak dicapai diplomat lain seusianya.
Ia bukan satu-satunya yang menempuh jalan ini. Jejaknya mengikuti sejumlah wartawan senior lain yang juga jadi duta besar — Sabam Siagian dari The Jakarta Post yang bertugas di Australia, Djafar Assegaf dari LKBN Antara/Media Indonesia yang ditempatkan di Vietnam, dan Susanto Pudjomartono dari Jakarta Post yang mewakili Indonesia di Rusia. Tradisi "wartawan diplomat" ini menegaskan satu hal sederhana: kemampuan bercerita dengan jujur dan kemampuan menjaga kepentingan bangsa ternyata bisa tumbuh dari akar yang sama.
Kebiasaan menulis pun tak pernah benar-benar ia lepaskan. Di era ketika media sosial baru mulai tumbuh, Pohan menjadikan Twitter, Facebook, dan blog pribadinya sebagai kanal diplomasi publik — menjelaskan kebijakan luar negeri dengan bahasa yang bisa dipahami orang kebanyakan, bukan bahasa birokrasi yang kaku. Ia bahkan menjadi salah satu penggagas Komunitas Blogger ASEAN chapter Indonesia, yakin betul bahwa jembatan antara pemerintah dan warga biasa dibangun lewat kata-kata yang jujur dan mudah diakses.
Membawa Indonesia ke Jantung Eropa Tengah
Puncak paling terlihat dari masa tugasnya di Warsawa datang pada 5–10 Mei 2008. Di Expo XXI, aula pameran termegah Polandia kala itu seluas 10.000 meter persegi, Hazairin Pohan jadi tuan rumah bagi "1st Indonesia Expo in Central and East Europe" — pameran dagang, investasi, dan pariwisata Indonesia pertama dan terbesar untuk kawasan Eropa Tengah dan Timur.
Lebih dari 150 pengusaha nasional ikut ambil bagian. Acara ini turut dihadiri Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal M. Lutfi, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris — delegasi tingkat tinggi yang menunjukkan perhelatan ini bukan sekadar seremoni, tapi langkah nyata membuka pasar baru bagi Indonesia.
Tapi bagi Pohan, diplomasi ekonomi tak cukup dikerjakan dari balik meja. Ia rutin "road show" ke Lithuania, Belarus, Rusia, dan Spanyol untuk apa yang ia sebut sendiri sebagai upaya "telling Indonesia to the world" — menjual langsung potensi Indonesia kepada calon investor dan mitra dagang. Bersama 26 duta besar RI lain di Eropa, ia menargetkan lima ribu pengunjung datang ke Indonesia Expo di Warsawa — ambisi yang mencerminkan keyakinannya bahwa diplomasi ekonomi adalah kerja lapangan, bukan sekadar kerja dokumen.
Yang Selalu Ia Wariskan ke Diplomat Muda
Kepada para diplomat muda, Hazairin Pohan selalu mengingatkan bahwa perjuangan diplomasi Indonesia belum selesai — dan merekalah yang kelak melanjutkannya. Ia menaruh perhatian besar pada pembenahan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kementerian Luar Negeri, tempat ia dipercaya jadi kepala pada 2012, dengan visi menjadikannya lembaga terakreditasi nasional, bukan sekadar fasilitas internal kementerian.
Tiga Hal yang Ia Pegang Teguh
- Dengarkan lebih dulu. Naluri jurnalistik mengajarkan bahwa kebenaran jarang datang dari pernyataan resmi pertama.
- Verifikasi, jangan berasumsi. Cek dan ricek adalah kebiasaan wartawan yang tak boleh hilang dari seorang diplomat.
- Bicara kepada rakyat, bukan hanya kepada negara. Diplomasi yang baik harus bisa dijelaskan kepada orang kebanyakan.
Ia juga dikenal sebagai dosen dan pengajar sejak 1990, termasuk di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dan sejumlah perguruan tinggi, menularkan pengalaman puluhan tahunnya ke generasi pemimpin baru.
Masih Bicara, Belum Berhenti Menulis
Masa tugasnya di Warsawa berakhir pada 2010, tapi suara Hazairin Pohan justru makin sering terdengar belakangan ini. Sebagai diplomat senior, ia kerap tampil di forum publik dan program diskusi geopolitik — salah satunya podcast Panggung Belakang di KBA News yang dipandu Buni Yani, tempat ia rutin membedah isu-isu hubungan internasional terkini dengan cara yang mudah dicerna orang awam. Ada juga sentuhan keluarga di situ: KBA News didirikan oleh adiknya sendiri, Ramadhan Pohan, sehingga panggung itu terasa seperti kelanjutan alami dari ruang redaksi Waspada tempat mereka berdua pernah bermula.
Ketika ketegangan Israel dan Iran memuncak pada Juli 2025, misalnya, Hazairin Pohan menilai konflik 12 hari yang melibatkan Amerika Serikat itu menandai pergeseran dunia dari dominasi tunggal Amerika Serikat menuju tatanan multipolar yang belum stabil, dan mendorong Indonesia untuk lebih aktif secara diplomatik memanfaatkan posisinya sebagai negara Muslim terbesar sekaligus pilar Gerakan Non-Blok. Di kesempatan lain, ia menyoroti bagaimana Amerika era Trump kedua menjadi kurang menarik bagi pelajar dan pekerja Indonesia, dari soal kebebasan akademik yang menyempit di kampus-kampus besar sampai ancaman perang tarif terhadap lapangan kerja.
Ia juga vokal bicara soal potensi diplomasi kemanusiaan Indonesia sebagai bentuk soft power — mengingat tingginya minat anak muda Indonesia jadi relawan internasional dan rekam jejak lebih dari 50 misi perdamaian PBB yang pernah diikuti Indonesia. Menurutnya, ini modal yang belum digarap maksimal, dan bisa menempatkan Indonesia sebagai rujukan dunia soal kemanusiaan, bukan cuma pemain di panggung ASEAN.
Masuk 2026, sorotannya kian tajam. Dalam sebuah wawancara dengan KBA News pada April 2026, ia mengkritik arah politik luar negeri Indonesia yang dinilainya mulai menjauh dari ASEAN demi mengejar kedekatan dengan Washington — padahal, menurutnya, ASEAN selama ini adalah "cornerstone" yang memberi Indonesia legitimasi untuk tampil di panggung global. Ragam topik itu — dari geopolitik Timur Tengah, kebijakan luar negeri era Prabowo, sampai soft power kemanusiaan — menunjukkan satu benang merah yang sama sejak ia masih jadi wartawan muda di Waspada Medan: rasa ingin tahu yang tidak pernah benar-benar padam, dan keyakinan bahwa kebijakan luar negeri harus bisa dijelaskan kepada siapa saja, bukan cuma disimpan di ruang tertutup.
Apa yang Bisa Dipetik dari Perjalanannya
Bagi Diplomasi Indonesia
Menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi publik adalah bagian utuh dari keterampilan diplomatik, bukan sekadar pelengkap protokoler.
Bagi Komunikasi Publik
Salah satu diplomat awal yang memakai media sosial untuk menjelaskan kebijakan luar negeri langsung ke publik secara personal.
Bagi Hubungan Indonesia–Eropa Tengah
Meletakkan fondasi diplomasi ekonomi Indonesia di kawasan itu lewat Indonesia Expo di Warsawa tahun 2008.
Bagi Jurnalistik
Membuktikan bahwa idealisme jurnalistik — kepekaan pada keadilan dan kebenaran — bisa terus hidup meski berpindah profesi, dan bahkan menurun ke generasi berikutnya di keluarganya.
Jejak Perjalanan Hidupnya
Lahir 12 November, anak ketujuh dari tiga belas bersaudara keluarga wartawan dan guru.
Menonjol sebagai reporter muda di salah satu harian tertua Sumatera Utara.
Lulus dari Sekolah Dinas Luar Negeri dan resmi jadi diplomat karier.
Penempatan pertama di tengah dinamika geopolitik pasca-Soviet.
Memperdalam pemahaman atas transisi politik Eropa Timur.
Menangani isu politik Indonesia di forum multilateral PBB.
Merumuskan kebijakan Indonesia untuk kawasan yang pernah jadi tempat tugasnya.
Memimpin lebih dari 200 perundingan dan menggagas Indonesia Expo 2008.
Memimpin pembenahan pusat pendidikan dan pelatihan diplomat.
Rutin membedah isu geopolitik global — dari Israel-Iran, kuliah ke AS, sampai arah polugri Indonesia terhadap ASEAN.
Kebanyakan diplomat bicara kepada negara. Hazairin Pohan memilih bicara kepada negara sekaligus kepada masyarakatnya — lewat kawat diplomatik yang formal, tapi juga lewat kolom, cuitan, dan cerita yang bisa dipahami siapa saja. Di situlah letak keistimewaannya: wartawan yang dipercaya jadi wajah bangsa, dan diplomat yang sampai sekarang belum juga berhenti jadi juru cerita.
Yang Sering Ditanyakan Soal Hazairin Pohan
Siapa itu Hazairin Pohan?
Hazairin Pohan adalah diplomat karier Indonesia dan mantan wartawan Harian Waspada Medan yang menjabat Duta Besar RI Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Polandia periode 2006–2010, dan sampai kini masih aktif sebagai komentator kebijakan luar negeri.
Kapan dan di mana ia lahir?
Ia lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 12 November 1953, sebagai anak ketujuh dari tiga belas bersaudara.
Apa pencapaian terbesarnya sebagai Duta Besar?
Antara lain menggagas dan memimpin 1st Indonesia Expo in Central and East Europe di Warsawa pada Mei 2008, serta memimpin lebih dari 200 perundingan bilateral dan multilateral sepanjang kariernya.
Apakah benar keluarganya banyak berkecimpung di dunia jurnalistik?
Ya. Ayahnya, H. Abdul Muthalib Pohan, adalah wartawan sekaligus guru bahasa Inggris di Pematang Siantar. Adiknya, Ramadhan Pohan, juga berkarier sebagai wartawan Jawa Pos dan Pemimpin Redaksi Jurnal Nasional, sebelum mendirikan portal berita KBA News — media tempat Hazairin kini rutin tampil membahas isu geopolitik.
Apa hubungan latar belakang jurnalistiknya dengan karier diplomatiknya?
Pengalamannya sebagai wartawan membentuk kebiasaan mendengarkan, memverifikasi, dan berkomunikasi jelas — keterampilan yang langsung ia bawa ke meja perundingan diplomatik.
Apakah ia masih aktif bicara soal kebijakan luar negeri sekarang?
Ya. Ia rutin tampil di forum publik dan program diskusi seperti Panggung Belakang KBA News, membahas isu-isu geopolitik terkini mulai dari konflik Timur Tengah, kebijakan pendidikan ke AS, sampai arah kebijakan luar negeri Indonesia terhadap ASEAN.

