Ahsanta Web

logo ahsantaweb online
Wening Esthyprobo: Diplomasi dengan Sentuhan Hati
Arsip Diplomasi  •  Edisi Khusus

Wening Esthyprobo Fatandari, mantan Duta Besar RI untuk Hongaria
Wening Esthyprobo Fatandari, tetap aktif berkegiatan usai purnatugas sebagai diplomat. “Beliau punya prinsip tidak bisa menolak ajakan untuk kegiatan positif,” ujar orang-orang terdekatnya.
Profil  ·  Diplomasi Indonesia–Hongaria

Wening Esthyprobo:
Diplomasi dengan Sentuhan Hati

Dari meja perundingan hingga kelas bahasa di kota-kota kecil Hongaria — kisah seorang duta besar yang membuktikan bahwa hubungan antarbangsa paling erat justru tumbuh dari hal-hal paling personal.

Duta Besar RI untuk Hongaria · 2015–2019 10+ Penghargaan Hongaria Lahir di Pekalongan

Di dunia diplomasi yang identik dengan protokol kaku dan bahasa formal, nama Wening Esthyprobo Fatandari dikenang sebagai sosok yang membawa warna berbeda. Selama sekitar empat tahun, dari Maret 2015 hingga awal 2019, perempuan kelahiran Pekalongan ini mengemban salah satu tugas paling terhormat dalam karier seorang diplomat: menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Hungaria.

Namun bagi Wening, jabatan itu tidak pernah sekadar gelar formal. Ia menjadikannya jembatan yang menghubungkan bukan hanya dua negara, tapi juga dua budaya, dua cara pandang, bahkan dua generasi.

Sejak itu, tongkat estafet Dubes RI di Budapest sudah dua kali berpindah tangan — dari Abdurachman Hudiono Dimas Wahab (2019–2025), lalu Penny Dewi Herasati yang menjabat sejak Maret 2025. Tapi jejak yang ditinggalkan Wening di Budapest — dan di hati banyak orang Hongaria — masih terus dibicarakan hingga hari ini, bahkan namanya masih kerap disebut di berbagai laporan media sebagai salah satu dubes paling berkesan yang pernah bertugas di sana.

Perjalanan Panjang Seorang Diplomat

Sebelum namanya identik dengan Hungaria, Wening sudah lebih dulu menghabiskan puluhan tahun menapaki jenjang karier diplomatik dari bawah. Ia menempuh pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Semarang, sebelum melanjutkan ke Sastra Inggris Universitas Diponegoro dan lulus pada 1981. Kariernya di Kementerian Luar Negeri dimulai sejak pertengahan 1980-an — jauh sebelum ia sempat membayangkan akan menjadi seorang duta besar — dan dari sana ia berpindah dari satu pos ke pos lain: Wina, New York, Brussels, hingga Oslo, masing-masing menempanya dengan pengalaman berbeda, mulai dari urusan ekonomi multilateral, kerja sama ASEAN, sampai diplomasi di badan-badan PBB. Di sela kesibukan itu, ia sempat pula menuntaskan gelar master hubungan internasional di St. John's University, Amerika Serikat, pada 1998.

Rangkaian pengalaman panjang itulah yang akhirnya mengantarkannya ke Budapest pada Maret 2015, sebagai kepala perwakilan diplomatik Indonesia di Hungaria. Ia menyerahkan surat kepercayaannya langsung kepada Presiden Hungaria saat itu, János Áder, di Istana Sándor, Budapest, pada 9 Maret 2015. Tak lama sebelum keberangkatannya ke Budapest, Wening masih menjabat Kepala Pusat Analisis Kebijakan dan Pembangunan Kemlu — posisi yang membuatnya sempat diwawancarai media Chile pada 2014 untuk membahas hubungan ASEAN, Indonesia, dan Chile, sebuah bukti bahwa jangkauan diplomasinya sudah lintas benua jauh sebelum ia dikenal identik dengan Hungaria.

Bagi seorang perempuan yang menembus posisi puncak di dunia yang dulu kental dengan dominasi laki-laki, perjalanan karier Wening menjadi bukti bahwa dedikasi panjang dan konsistensi bisa mengalahkan segala bentuk keterbatasan — sebuah kisah yang layak menginspirasi generasi diplomat muda Indonesia, khususnya perempuan.

Dubes RI Wening Esthyprobo menyerahkan penghargaan Remember Dij kepada penyanyi legendaris Hongaria Madarazs Katalin
Duta Besar RI untuk Hongaria Wening Esthyprobo (kanan) menyerahkan penghargaan “Remember Dij” kepada Penyanyi Legendaris Madarazs Katalin di Budapest, Hongaria, 20 Maret 2018. (Dok. Pensosbud KBRI Hongaria) Antara News

Penghargaan itu hanyalah satu dari sekian banyak pengakuan yang mengalir dari berbagai kalangan Hongaria selama masa tugasnya — mulai dari dunia seni, pendidikan, hingga institusi kebudayaan — yang menunjukkan betapa luasnya jejaring yang ia bangun jauh melampaui lingkup diplomasi formal semata.

Belum genap setahun menjabat, Wening sudah aktif merajut kerja sama pendidikan antara kedua negara. Pada 2 November 2015, ia diterima Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, dalam sebuah pertemuan yang membahas penguatan kerja sama pendidikan, riset, dan kemitraan antara UGM dengan universitas-universitas di Hongaria — langkah awal dari jejaring akademik yang terus ia perluas sepanjang masa tugasnya di Budapest.

Wening Esthyprobo diterima Rektor UGM Dwikorita Karnawati membahas kerja sama pendidikan dengan Hongaria
Duta Besar RI untuk Hongaria, H.E. Wening Esthyprobo Fatandari, diterima Rektor UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, dalam pertemuan yang membahas penguatan kerja sama pendidikan, riset, dan kemitraan dengan universitas-universitas di Hongaria UGM.ac.id

Ibu dari “Duta Reggae Indonesia”

Di balik sosok diplomat yang tegas, Wening juga seorang ibu. Putra satu-satunya adalah Muhamad Egar, yang di panggung musik lebih dikenal dengan nama Ras Muhamad — musisi reggae Indonesia yang dijuluki komunitasnya sebagai “Duta Reggae Indonesia” dan pernah dinobatkan sebagai Best Reggae Act oleh Rolling Stone Indonesia. Uniknya, jalan hidup ibu dan anak ini nyaris berlawanan: sang ibu menghabiskan hidupnya dalam dunia protokol dan meja diplomasi, sementara sang anak memilih panggung dan mikrofon. Namun keduanya justru sering bertemu di titik yang sama — ketika Ras Muhamad tampil di Budapest, Bratislava, hingga Oslo, tempat-tempat yang juga pernah menjadi pos tugas ibunya.

Ras Muhamad memeriahkan perayaan Idulfitri masyarakat Indonesia di KBRI Budapest
Ras Muhamad turut memeriahkan perayaan Idulfitri masyarakat Indonesia di KBRI Budapest detikNews

Pada momen Lebaran 2016 di Budapest, Ras Muhamad bahkan menyempatkan diri terbang khusus untuk berkumpul bersama sang ibu dan komunitas WNI di sana. Dan dalam salah satu konser di kawasan Eropa Tengah, ia pernah menyanyikan sebuah lagu yang ia persembahkan untuk ibunya di depan publik — momen yang menurut orang-orang dekat keluarga ini sempat membuat sang dubes terharu di tengah kerumunan penonton. Wening sendiri dikenal mendukung penuh pilihan hidup anaknya, meski jauh berbeda dari jalur birokrasi yang ia tempuh.

Sebab, dia bahagia di situ. Biarkan dia memilih, selama itu positif.Wening Esthyprobo Fatandari, tentang pilihan hidup putranya

Kedekatan itu bahkan berlanjut menjadi kolaborasi diplomasi budaya yang nyata. Wening pernah menyerahkan koleksi album musik Indonesia — termasuk karya Ras Muhamad — kepada Perpustakaan Metropolitan Szabó Ervin di Budapest, salah satu perpustakaan terbesar di Hongaria, sebagai upaya memperkenalkan musik dan warisan budaya Indonesia kepada publik Hongaria secara lebih luas.

Dubes RI Wening Esthyprobo menyerahkan koleksi album musik Indonesia termasuk karya Ras Muhamad ke Perpustakaan Szabo Ervin Budapest
Dubes RI untuk Hongaria, Wening Esthyprobo, menyerahkan koleksi album musik Indonesia, termasuk karya Ras Muhamad, kepada Perpustakaan Metropolitan Szabó Ervin di Budapest sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia Medcom.id

Ketika Diplomasi Bicara Lewat Buku Anak

Selama bertugas di Budapest, Wening tidak hanya sibuk dengan agenda kenegaraan formal. Ia juga rajin merajut kedekatan lewat hal-hal yang jauh lebih personal — dan salah satu yang paling dikenang adalah inisiatifnya menerjemahkan dan menyunting buku anak karya penulis Hongaria, Erika Bartos, Hoppla Meséi, Kirándulás Pécs Városába (dikenal dalam versi Indonesia sebagai Kisah Lonci, Petualangan ke Kota Pécs), bekerja sama dengan staf KBRI Budapest. Langkah kecil ini ternyata berdampak besar: Pemerintah Kota Pécs bahkan memberinya penghargaan khusus karena dianggap berjasa memperkenalkan kota tersebut kepada anak-anak Indonesia lewat cerita, sementara National Széchényi Library turut memberikan penghargaan serupa atas prakarsanya menerjemahkan buku cerita anak Hongaria ke bahasa Indonesia.

Saya blusukan sampai ke countryside. Jadi tidak hanya berhenti di kota-kota besar saja.Wening Esthyprobo Fatandari

Bagi Wening, diplomasi tidak melulu soal meja perundingan. Ia percaya, sastra dan budaya adalah bahasa universal yang jauh lebih efektif mencairkan jarak antarbangsa dibanding dokumen resmi mana pun. Semangat itu pula yang mendorongnya menggagas program “Indonesia Goes to School” — kegiatan memperkenalkan seni dan budaya Indonesia langsung ke siswa-siswi SMA di berbagai penjuru Hungaria, bukan cuma di Budapest, tapi juga hingga ke kota-kota kecil yang jarang disambangi pejabat asing, sebagaimana pesannya di atas: anak muda adalah generasi yang kelak akan meneruskan hubungan kedua negara.

Semangat memperluas jangkauan pendidikan itu juga terlihat ketika ia meresmikan pembukaan kelas Bahasa Indonesia di Budapest Business School pada Februari 2017 — kelas bahasa yang diminati puluhan mahasiswa Hongaria dan menjadi bagian dari penguatan kerja sama pendidikan kedua negara.

Peresmian kelas Bahasa Indonesia di Budapest Business School oleh Dubes RI Wening Esthyprobo
Duta Besar RI untuk Hongaria, Wening Esthyprobo, meresmikan pembukaan kelas Bahasa Indonesia di Budapest Business School sebagai bagian dari penguatan kerja sama pendidikan Indonesia–Hongaria WowKeren

Ketekunan itu berbuah manis. Sepanjang masa tugasnya, Wening tercatat menerima lebih dari sepuluh penghargaan dari berbagai institusi Hongaria — mulai dari pemerintah kota, museum sejarah alam, kebun binatang, lembaga pendidikan, hingga komite olahraga nasional Hongaria — sebagai pengakuan atas kontribusinya mempererat hubungan kedua bangsa.

Merawat Hubungan dari Akar Rumput

Di bawah kepemimpinannya, hubungan Indonesia dan Hungaria tumbuh semakin erat dan hangat, bukan hanya di level pemerintah, tapi juga di antara masyarakatnya. Wening kerap memfasilitasi kunjungan pejabat tinggi kedua negara, sekaligus aktif menghidupkan kegiatan-kegiatan komunitas — dari pertunjukan seni dan budaya Indonesia yang digelar berkali-kali dalam setahun, pameran seni kolaborasi dengan seniman lokal Hongaria, hingga kegiatan olahraga persahabatan bersama kedutaan negara-negara sahabat di Budapest. Perayaan Idulfitri di Wisma Duta pun menjadi momen tahunan yang selalu ia buka dengan pesan sederhana: menjaga persatuan dan memperlihatkan jati diri Indonesia sebagai bangsa yang santun dan ramah, di tengah warga Indonesia di Hungaria yang jumlahnya terus bertambah, didominasi mahasiswa dan pekerja profesional yang datang mengejar pendidikan dan karier di Eropa Tengah.

Dukungannya terhadap karya diaspora Indonesia di Hongaria pun tak kalah nyata. Ia turut mendampingi peluncuran buku Exploring Hungary karya diaspora Indonesia, Gaganawati Stegmann, di KBRI Budapest — sebuah karya yang bahkan mendapat kata pengantar langsung dari Wening sendiri, menandai kedekatannya dengan komunitas WNI yang aktif berkarya di negeri orang.

Dubes RI Wening Esthyprobo mendampingi peluncuran buku Exploring Hungary karya Gaganawati Stegmann di KBRI Budapest
Duta Besar RI untuk Hongaria, Wening Esthyprobo, mendampingi peluncuran buku Exploring Hungary karya diaspora Indonesia, Gaganawati Stegmann, di KBRI Budapest.

Batik, Kebaya, dan Filosofi Hidup

Satu hal yang selalu melekat pada sosok Wening adalah kecintaannya pada busana nasional. Dalam banyak kesempatan resmi di kancah internasional, ia dengan sengaja mengenakan batik atau kebaya — bukan sekadar gaya, melainkan pendekatan yang ia sebut sendiri sebagai fashion diplomacy: cara memperkenalkan kekayaan Indonesia lewat hal paling personal, yaitu apa yang dikenakan seseorang.

Ia juga dikenal teguh memegang satu keyakinan: perempuan Indonesia tidak boleh membatasi diri untuk berkembang, di ranah apa pun mereka berkarier. Pesannya untuk generasi muda sederhana tapi dalam maknanya — kejarlah impian setinggi mungkin, dan jangan biarkan apa pun menghalangi langkah itu.

Tetap Aktif Usai Purnatugas

Meninggalkan Budapest bukan berarti Wening berhenti berkontribusi. Sebagai alumnus program persahabatan pemuda Indonesia-Jepang (Nakasone Programme) angkatan 1986, ia kini duduk sebagai Dewan Pengawas KAPPIJA21 (Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia Jepang Abad 21) — organisasi alumni yang menaungi lebih dari 4.100 anggota program pertukaran Indonesia-Jepang di seluruh Indonesia. Lewat peran ini, Wening masih kerap tampil mewakili Indonesia di forum-forum kerja sama internasional, termasuk pertemuan regional pemimpin muda ASEAN-Jepang, sekaligus terus membagikan pengalaman panjangnya sebagai diplomat kepada generasi yang lebih muda.

Wening Esthyprobo Fatandari sebagai Dewan Pengawas KAPPIJA21, organisasi alumni pertukaran pemuda Indonesia-Jepang
Wening Esthyprobo Fatandari, alumnus Nakasone Programme angkatan 1986, kini mengemban amanah sebagai Dewan Pengawas KAPPIJA21 — organisasi yang menaungi lebih dari 4.100 alumni pertukaran pemuda Indonesia–Jepang di seluruh Indonesia.

Wening Esthyprobo Fatandari telah membuktikan bahwa dengan ketekunan panjang, integritas, dan sentuhan kreativitas, seorang diplomat bisa meninggalkan warisan yang jauh melampaui dokumen-dokumen negara — warisan yang tertanam dalam memori kolektif dua bangsa, dan terus ia rawat bahkan lama setelah masa baktinya di Budapest usai.

W E F
Disusun dari pemberitaan Antara News, detikNews, Medcom.id, WowKeren, UGM.ac.id, Kompasiana, dan liputan media lain seputar masa tugas Wening Esthyprobo Fatandari sebagai Duta Besar RI untuk Hongaria (2015–2019).
×