Ada seorang perempuan asal Pekalongan yang berhasil membuat penyanyi legendaris Hungaria menitikkan air mata haru di atas panggung, mengajak seorang tokoh yang belakangan terpilih jadi presiden negeri itu berdiri sebagai co-host di resepsi kedutaannya, dan membuat ribuan pelajar SMA di kota-kota kecil Hungaria — yang bahkan tak pernah disambangi pejabat asing sebelumnya — hafal nama Indonesia. Namanya Wening Esthyprobo Fatandari, dan selama hampir empat tahun, dari Maret 2015 hingga awal 2019, ia mengemban salah satu tugas paling terhormat dalam karier seorang diplomat: menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Hungaria.
Sepanjang masa baktinya itu, ia pulang membawa sepuluh penghargaan resmi dari berbagai institusi Hungaria — sebuah jumlah yang jarang disamai diplomat mana pun di negara lain. Tapi angka itu bukan yang paling menarik dari kisahnya. Yang membuat namanya terus dibicarakan hingga hari ini adalah satu pertanyaan sederhana: bagaimana caranya seorang diplomat bisa membuat sebuah bangsa asing benar-benar jatuh hati, bukan sekadar hormat di atas kertas?
Sejak itu, tongkat estafet Dubes RI di Budapest sudah dua kali berpindah tangan — dari Abdurachman Hudiono Dimas Wahab (2019–2025), lalu Penny Dewi Herasati yang menjabat sejak Maret 2025. Tapi jejak yang ditinggalkan Wening di Budapest — dan di hati banyak orang Hongaria — masih terus dibicarakan hingga hari ini, bahkan namanya masih kerap disebut di berbagai laporan media sebagai salah satu dubes paling berkesan yang pernah bertugas di sana.
Perjalanan Panjang Seorang Diplomat
Sebelum namanya identik dengan Hungaria, Wening sudah lebih dulu menghabiskan puluhan tahun menapaki jenjang karier diplomatik dari bawah. Ia menempuh pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Semarang, sebelum melanjutkan ke Sastra Inggris Universitas Diponegoro dan lulus pada 1981. Kariernya di Kementerian Luar Negeri dimulai sejak pertengahan 1980-an — jauh sebelum ia sempat membayangkan akan menjadi seorang duta besar — dan dari sana ia berpindah dari satu pos ke pos lain: Wina, New York, Brussels, hingga Oslo, masing-masing menempanya dengan pengalaman berbeda, mulai dari urusan ekonomi multilateral, kerja sama ASEAN, sampai diplomasi di badan-badan PBB. Di sela kesibukan itu, ia sempat pula menuntaskan gelar master hubungan internasional di St. John's University, Amerika Serikat, pada 1998.
Rangkaian pengalaman panjang itulah yang akhirnya mengantarkannya ke Budapest pada Maret 2015, sebagai kepala perwakilan diplomatik Indonesia di Hungaria. Ia menyerahkan surat kepercayaannya langsung kepada Presiden Hungaria saat itu, János Áder, di Istana Sándor, Budapest, pada 9 Maret 2015. Tak lama sebelum keberangkatannya ke Budapest, Wening masih menjabat Kepala Pusat Analisis Kebijakan dan Pembangunan Kemlu — posisi yang membuatnya sempat diwawancarai media Chile pada 2014 untuk membahas hubungan ASEAN, Indonesia, dan Chile, sebuah bukti bahwa jangkauan diplomasinya sudah lintas benua jauh sebelum ia dikenal identik dengan Hungaria.
Bagi seorang perempuan yang menembus posisi puncak di dunia yang dulu kental dengan dominasi laki-laki, perjalanan karier Wening menjadi bukti bahwa dedikasi panjang dan konsistensi bisa mengalahkan segala bentuk keterbatasan — sebuah kisah yang layak menginspirasi generasi diplomat muda Indonesia, khususnya perempuan.

Penghargaan itu hanyalah satu dari sekian banyak pengakuan yang mengalir dari berbagai kalangan Hongaria selama masa tugasnya — mulai dari dunia seni, pendidikan, hingga institusi kebudayaan — yang menunjukkan betapa luasnya jejaring yang ia bangun jauh melampaui lingkup diplomasi formal semata. Ada satu kebiasaan dalam setiap seremoni yang selalu membuatnya terharu: sebelum penghargaan diserahkan, pembawa acara selalu membacakan lebih dulu alasan dan jasa-jasa di baliknya, sehingga setiap kali menerima sebuah penghargaan, Wening ikut mendengarkan kembali rangkaian kerja yang telah ia dan timnya tempuh untuk sampai ke titik itu.
Keterbukaan dan keramahannya bahkan mengantarkannya pada persahabatan-persahabatan yang kelak punya arti besar. Salah satunya dengan Tamás Sulyok, yang pada masa itu masih menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi Hungaria dan berkenan menjadi co-host mendampingi Wening saat KBRI menyelenggarakan Resepsi Diplomatik — sosok yang belakangan terpilih sebagai Presiden Hungaria.
Relasi serupa juga membawanya tampil di program Tea with Gloria (Tea Glóriával) yang ditayangkan Hatoscsatorna, atau Channel 6 TV Hongaria. Wawancara yang direkam di studio Hatoscsatorna pada 7 Februari 2017 itu semula dijadwalkan hanya 45 menit, namun antusiasme sang pembawa acara, Geszty Gloria, terhadap kekayaan budaya Indonesia membuat perbincangan meluas hingga sekitar 90 menit — durasi tayang yang bila dihitung sebagai slot promosi berbayar, nilainya jauh melampaui anggaran promosi biasa. Wening tampil anggun mengenakan kebaya tradisional lengkap dengan selendang batik dan aksesori khas Indonesia, di tengah studio yang dihias berbagai ornamen Nusantara: kain batik, wayang golek, wayang kulit, payung Bali, patung pengantin adat, hingga bendera Merah Putih sebagai latar utama. Dalam wawancara itu ia mempromosikan Indonesia secara komprehensif — mulai dari aspek politik, ekonomi, sosial budaya, hingga hubungan bilateral Indonesia–Hongaria — sembari memperkenalkan kekayaan kuliner Tanah Air lewat sajian wedang uwuh dan sosis Solo yang menemani jalannya perbincangan.


Bagi Geszty Gloria, wawancara itu terasa istimewa karena menghadirkan seorang duta besar yang turun langsung mempromosikan negaranya di televisi nasional; ia bahkan menyebut Wening sebagai perintis, karena menjadi duta besar pertama yang tampil di Tea with Gloria sepanjang 15 tahun program itu berjalan — sebuah acara bincang yang telah menayangkan lebih dari 500 episode dengan berbagai tokoh terkemuka Hongaria, dan disaksikan lebih dari dua juta pemirsa. Lewat perpaduan diplomasi budaya, fesyen, dan kuliner semacam ini, Indonesia hadir di layar kaca Hongaria sebagai bangsa yang kaya tradisi, seni, dan keberagaman.
Pengakuan yang barangkali paling personal datang pada 16 Mei 2017, ketika dalam forum berskala global Magyar Világtalálkozó (Pertemuan Dunia Masyarakat Hongaria), Wening dianugerahi gelar Anggota Kehormatan Masyarakat Hongaria atau Tiszteletbeli Magyar — sebuah pengakuan atas dedikasinya menjembatani hubungan bilateral lewat jalur kebudayaan, sosial, dan edukasi yang menyentuh langsung masyarakat setempat. Dalam forum itu turut dipaparkan sejumlah inisiatif lintas sektor yang ia wujudkan bersama KBRI Budapest: di bidang riset dan lingkungan, ia memfasilitasi kemitraan studi antara Danau Toba — danau vulkanik terbesar di dunia — dengan Danau Balaton di Hongaria, sekaligus turut memediasi pengiriman satwa khas Indonesia untuk mengisi Kebun Binatang Budapest, selain memberi dukungan bagi Kebun Binatang Nyíregyháza; sementara di ranah sosial, ia rutin memberi dukungan dan donasi bagi panti asuhan, panti wreda, dan lembaga penyandang disabilitas di berbagai wilayah Hungaria, serta menghidupkan turnamen tahunan Sumatra Badminton Cup di Budapest untuk membina bakat muda bulu tangkis setempat. Kecintaannya pada budaya lokal turut ia tunjukkan lewat gaya berbusana yang khas pada hari penganugerahan itu — memadukan kebaya Indonesia dengan párta, hiasan kepala tradisional perempuan Hongaria, sebagai simbol penghormatan pada sejarah dan budaya negara yang ia tempati.


Aroma Nusantara di Kota Sopron: Saat Diplomasi Berpadu dengan Gastronomi
Belum genap setahun bertugas, Wening sudah menunjukkan gaya diplomasinya yang khas: turun langsung ke daerah, bukan hanya berkutat di ibu kota. Pada 31 Maret 2016, ia mengunjungi sebuah sekolah kejuruan pariwisata di Kota Sopron — kota bersejarah dekat perbatasan barat Hungaria — membawa misi memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia lewat lidah para siswanya.
Dalam kunjungan yang hangat itu, Wening menyapa langsung para siswa dan guru di sekolah tersebut. Ia memilih Sopron sebagai titik awal program kunjungan daerahnya, mengingat reputasi sekolah itu yang unggul di bidang pariwisata dan tata boga. “Saya bahagia bisa berada di sini,” ungkapnya kepada para siswa dan pengajar yang menyambutnya. Dengan bangga, ia memperkenalkan sedikit dari ribuan resep yang dimiliki Indonesia — negara kepulauan terbesar di dunia — kepada para siswa yang tengah menimba ilmu di bidang tata boga.
Bagi para siswa, kunjungan ini terasa istimewa. Sekitar seratus siswa terlibat langsung dalam demonstrasi memasak dan mencicipi hidangan Indonesia yang bahan-bahannya disesuaikan dengan ketersediaan di Hungaria — sebuah penyesuaian kecil yang membuat resep Nusantara tetap bisa dihadirkan otentik meski jauh dari tanah asalnya. Tak hanya soal rasa, mereka pun diajak menyelami harmoni budaya lewat pertunjukan musik dan tarian tradisional Indonesia yang turut mengiringi kunjungan tersebut.
Kehangatan kunjungan ke Sopron ini menjadi pengingat bahwa di balik jabatan formal seorang duta besar, ada keinginan tulus untuk menjembatani dua budaya yang jauh berbeda lewat medium yang paling universal: makanan dan keramahan. Pemandangan para siswa yang antusias mencoba resep eksotis dari negeri tropis di tengah kota bersejarah Eropa ini menjadi salah satu bukti paling awal dari gaya diplomasi Wening — yang turun langsung, menyentuh akar rumput, dan berbicara lewat hal-hal paling manusiawi — jauh sebelum program-program serupa seperti “Indonesia Goes to School” ia gagas secara lebih terstruktur di tahun-tahun berikutnya.
Ibu dari “Duta Reggae Indonesia”
Di balik sosok diplomat yang tegas, Wening juga seorang ibu. Putra satu-satunya adalah Muhamad Egar, yang di panggung musik lebih dikenal dengan nama Ras Muhamad — musisi reggae Indonesia yang dijuluki komunitasnya sebagai “Duta Reggae Indonesia” dan pernah dinobatkan sebagai Best Reggae Act oleh Rolling Stone Indonesia. Uniknya, jalan hidup ibu dan anak ini nyaris berlawanan: sang ibu menghabiskan hidupnya dalam dunia protokol dan meja diplomasi, sementara sang anak memilih panggung dan mikrofon. Namun keduanya justru sering bertemu di titik yang sama — ketika Ras Muhamad tampil di Budapest, di Bratislava (Slovakia), di Summer Fest (Jerman), di Ostróda (Polandia), di Oslo (Norwegia), bahkan hingga Sierra Nevada World Music Festival di San Francisco (Amerika Serikat) — sebagian dari panggung-panggung itu berada jauh di luar wilayah pos tugas sang ibu, namun tetap mempertemukan keduanya.

Pada momen Lebaran 2016 di Budapest, Ras Muhamad bahkan menyempatkan diri terbang khusus untuk berkumpul bersama sang ibu dan komunitas WNI di sana. Dan dalam salah satu konser di kawasan Eropa Tengah, ia pernah menyanyikan sebuah lagu yang ia persembahkan untuk ibunya di depan publik — momen yang menurut orang-orang dekat keluarga ini sempat membuat sang dubes terharu di tengah kerumunan penonton. Wening sendiri dikenal mendukung penuh pilihan hidup anaknya, meski jauh berbeda dari jalur birokrasi yang ia tempuh.
Sebab, dia bahagia di situ. Biarkan dia memilih, selama itu positif.Wening Esthyprobo Fatandari, tentang pilihan hidup putranya
Salah satu momen paling tak terduga dari kedekatan ibu dan anak ini terjadi pada 19 Mei 2018, ketika Ras Muhamad mendadak didapuk tampil sebagai peragawan di ajang Panorama World Club Fashion Show di Millennium Center, Budapest — gelaran tahunan hasil kerja sama KBRI dengan perancang busana Hongaria dan Indonesia untuk memamerkan karya desainer Tanah Air. Wening, yang kala itu melihat hampir seluruh model yang akan mengenakan busana Indonesia adalah perempuan, menawari putranya untuk tampil membawakan busana pria. Meski mengaku sangat gugup karena baru pertama kali naik catwalk — sampai harus menonton tutorial di YouTube dan bertanya kepada model-model perempuan yang tampil bersamanya — Ras akhirnya bersedia karena menyangkut promosi budaya Nusantara. Ia tampil mengenakan padu padan busana adat Jawa, kamen khas Bali, kopyah bercorak Kalimantan, dan udeng Bali, hasil diskusi dengan sang ibu dan panitia dari koleksi pribadinya sendiri. Pergelaran tahun itu turut menampilkan karya enam perancang busana Indonesia, di antaranya Itang Yunasz, Poppy Karim, Handy Hartono, Batik Chic, Khanaan, dan Warna Tasku, lewat sajian batik, tenun, tas etnik, dan kebaya yang memukau para hadirin.

Kedekatan itu bahkan berlanjut menjadi kolaborasi diplomasi budaya yang nyata. Wening pernah menyerahkan koleksi album musik Indonesia — termasuk karya Ras Muhamad — kepada Perpustakaan Metropolitan Szabó Ervin di Budapest, salah satu perpustakaan terbesar di Hongaria, sebagai upaya memperkenalkan musik dan warisan budaya Indonesia kepada publik Hongaria secara lebih luas.

Ketika Diplomasi Bicara Lewat Buku Anak
Selama bertugas di Budapest, Wening tidak hanya sibuk dengan agenda kenegaraan formal. Ia juga rajin merajut kedekatan lewat hal-hal yang jauh lebih personal — dan salah satu yang paling dikenang adalah inisiatifnya menerjemahkan dan menyunting buku anak karya penulis Hongaria, Erika Bartos, Hoppla Meséi, Kirándulás Pécs Városába (dikenal dalam versi Indonesia sebagai Kisah Lonci, Petualangan ke Kota Pécs) — diterjemahkan oleh staf KBRI Budapest, András Terfy, dengan tata bahasanya disunting langsung oleh Wening sendiri. Langkah kecil ini ternyata berdampak besar: Pemerintah Kota Pécs bahkan memberinya penghargaan khusus karena dianggap berjasa memperkenalkan kota tersebut kepada anak-anak Indonesia lewat cerita, sementara pada 10 Oktober 2018, National Széchényi Library turut memberikan penghargaan serupa yang diserahkan langsung oleh Direktur Jenderalnya, Dr. László Tüske, atas prakarsanya menerjemahkan buku cerita anak Hongaria ke bahasa Indonesia.

Saya blusukan sampai ke countryside. Jadi tidak hanya berhenti di kota-kota besar saja.Wening Esthyprobo Fatandari
Bagi Wening, diplomasi tidak melulu soal meja perundingan. Ia percaya, sastra dan budaya adalah bahasa universal yang jauh lebih efektif mencairkan jarak antarbangsa dibanding dokumen resmi mana pun. Semangat itu pula yang mendorongnya menggagas program “Indonesia Goes to School” (IGTS) — kegiatan memperkenalkan seni, budaya, dan kuliner Indonesia langsung ke siswa-siswi SMA di berbagai penjuru Hungaria, bukan cuma di Budapest, tapi juga hingga ke kota-kota kecil yang jarang disambangi pejabat asing, sebagaimana pesannya di atas: anak muda adalah generasi yang kelak akan meneruskan hubungan kedua negara.
Program IGTS itu kemudian berlanjut menjadi lomba mengarang esai bertema “Indonesia, Unity in Diversity” bagi pelajar Hongaria, yang pertama kali digelar KBRI Budapest dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-72 pada 2017. Naskah esai dikumpulkan dari April hingga Juni 2017 dari 15 SMA yang sebelumnya pernah dikunjungi rombongan IGTS, dan dimenangkan oleh tiga pelajar dari SMA Szeged dan Szolnok — Matuszka Nikolett, Vivien Mihály, dan Kovács Dávid. Wening sendiri mengatakan lomba ini digelar untuk membangkitkan rasa ingin tahu pelajar Hongaria terhadap Indonesia. Para pemenangnya menerima piala serta hadiah bersamaan dengan momen peringatan HUT RI ke-72 tersebut — sekaligus menjadi ajang penyerahan piagam penghargaan kepada sejumlah warga Hongaria “sahabat Indonesia” yang dinilai berjasa mempromosikan budaya Indonesia, di antaranya Szigetvári József selaku Direktur Summerfest Százhalombatta yang tiap tahun mengundang grup kesenian Indonesia tampil di festivalnya, Viszt Viktor selaku Stage Director Babel Sound Festival, serta pengurus Rondella Gallery yang menyediakan ruang pamer untuk pameran foto karya Mario Blanco di kota Esztergom.

Puncak peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI itu sendiri digelar dalam bentuk resepsi diplomatik di gedung bersejarah Pesti Vigadó, Budapest, pada 7 September 2017, dihadiri kalangan diplomat, perwakilan pemerintah Hungaria, serta mitra internasional. Pesona Indonesia ditampilkan lewat pentas tari tradisional yang merepresentasikan keberagaman etnik Nusantara, peragaan busana yang memadukan wastra Indonesia dengan sentuhan modern, serta pertunjukan musik yang menghadirkan nuansa kebersamaan bagi seluruh hadirin. Dalam kesempatan itu, Wening menegaskan bahwa perayaan tersebut bukan sekadar seremoni kenegaraan, melainkan wujud komitmen Indonesia untuk terus memperkuat diplomasi budaya sekaligus kerja sama ekonomi dengan Hungaria.
Semangat memperluas jangkauan pendidikan itu juga terlihat ketika ia meresmikan pembukaan kelas Bahasa Indonesia di Budapest Business School pada Februari 2017 — kelas bahasa yang diminati puluhan mahasiswa Hongaria dan menjadi bagian dari penguatan kerja sama pendidikan kedua negara.

Ketekunan itu berbuah manis. Sepanjang masa tugasnya, Wening tercatat menerima genap sepuluh penghargaan dari berbagai institusi Hongaria sebagai pengakuan atas kontribusinya mempererat hubungan kedua bangsa. Tiga di antaranya bahkan datang beruntun dalam rentang dua hari pada Oktober 2018: pada 9 Oktober, Hungarian Museum of Natural History (HNMH) memberinya penghargaan atas kerja sama yang terjalin baik antara KBRI Budapest dan HNMH, terutama dalam pertukaran informasi seputar fauna khas Indonesia; sehari berselang, 10 Oktober, ia menerima kunjungan kehormatan dari Direktur Kebun Binatang Nyíregyháza (Sóstó Zoo), Gajdos László, beserta staf ahlinya, Dr. Papp Endre, yang mengapresiasi upayanya mempererat kerja sama antara Kebun Binatang Ragunan dan Sóstó Zoo; dan pada hari yang sama pula, National Széchényi Library menganugerahkan penghargaan atas prakarsanya menerjemahkan buku cerita anak Hongaria ke bahasa Indonesia — melengkapi rangkaian penghargaan yang ia terima dari pemerintah kota, museum sejarah alam, kebun binatang, lembaga pendidikan, hingga komite olahraga nasional Hongaria.
Salah satu yang paling prestisius datang pada 12 November 2017, ketika Wening secara resmi menerima Panorama World Club Award di Budapest sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas dedikasi dan kontribusi nyatanya dalam mempererat hubungan bilateral serta kerja sama strategis Indonesia dan Hungaria. Dalam seremoni itu, penyelenggara secara khusus menyoroti tiga capaian utamanya: peran aktifnya memfasilitasi kerja sama akademik dan pertukaran pengetahuan antarinstitusi pendidikan kedua negara; upayanya mendorong kolaborasi riset dan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi pembangunan masyarakat, baik di Indonesia maupun Hungaria; serta kepeduliannya pada isu sosial dan lingkungan, termasuk dukungan nyata terhadap pengembangan Taman Hewan (Kebun Binatang) Nyíregyháza. Bagi banyak pihak, penghargaan ini menjadi simbol keberhasilan pendekatan diplomasi yang humanis dan kolaboratif ala Wening dalam mempromosikan citra positif Indonesia di Eropa Tengah.
Merawat Hubungan dari Akar Rumput
Di bawah kepemimpinannya, hubungan Indonesia dan Hungaria tumbuh semakin erat dan hangat, bukan hanya di level pemerintah, tapi juga di antara masyarakatnya. Wening kerap memfasilitasi kunjungan pejabat tinggi kedua negara, sekaligus aktif menghidupkan kegiatan-kegiatan komunitas — dari pertunjukan seni dan budaya Indonesia yang digelar berkali-kali dalam setahun, pameran seni kolaborasi dengan seniman lokal Hongaria, hingga kegiatan olahraga persahabatan bersama kedutaan negara-negara sahabat di Budapest. Perayaan Idulfitri di Wisma Duta pun menjadi momen tahunan yang selalu ia buka dengan pesan sederhana: menjaga persatuan dan memperlihatkan jati diri Indonesia sebagai bangsa yang santun dan ramah, di tengah warga Indonesia di Hungaria yang jumlahnya terus bertambah, didominasi mahasiswa dan pekerja profesional yang datang mengejar pendidikan dan karier di Eropa Tengah.
Di bidang promosi perdagangan, gelaran tahunan Indonesian Days yang selalu mengawali musim semi sekitar bulan Mei menjadi acara yang ditunggu-tunggu masyarakat Budapest di halaman KBRI. Selama dua hari, pengunjung tidak hanya disuguhi aneka kerajinan tangan dari Indonesia, tetapi juga dihibur musik dan tarian, sembari menikmati sate, nasi goreng, mi goreng, hingga penganan seperti kue pukis atau martabak manis bertabur keju dan dilumuri susu cokelat — perpaduan rasa yang terbilang tidak biasa bagi lidah Hongaria. Setelah dua hari di halaman KBRI, lapak-lapak yang sama kemudian berlanjut selama tiga hari di Pasar Besar Budapest, sebelum para pelaku UKM yang didatangkan dari Indonesia melanjutkan misi dagangnya ke Pasar Tong Tong di Belanda.
Sebagai dubes perempuan, Wening juga konsisten menampilkan fashion diplomacy lewat busana tradisional maupun modern Indonesia di berbagai kesempatan. Gaya berbusananya itu turut membawanya ditunjuk sebagai Ketua Dewan Juri dalam ajang pemilihan ratu kecantikan Hongaria, sementara jejaringnya dengan kalangan desainer setempat membuahkan dukungan gedung dan peragawati secara cuma-cuma untuk menggelar pagelaran busana Indonesia di Hungaria. Untuk memenangkan hati warga setempat lebih dalam lagi, ia bahkan mengundang pelatih tari folklore Hongaria untuk melatih tim tari di KBRI — hasilnya, tim tari folklore Indonesia binaan sang dubes beberapa kali tampil di acara perpisahan duta besar negara-negara sahabat yang purnatugas di Budapest.
Salah satu panggung yang paling diingat terjadi pada 14 Agustus 2018, saat Wening tampil dalam sesi peragaan busana yang digelar sebagai bagian dari kompetisi kecantikan Magyar Világtalálkozó Szépe di Budapest. Ia memilih mengenakan batik khas Indonesia yang dipadukan dengan sentuhan modern, dan penampilannya disambut hangat oleh para hadirin yang terkesima dengan motif batik yang eksotis. Bagi Wening, momen semacam ini adalah bentuk nyata komitmennya mempromosikan industri kreatif dan wastra Indonesia — sekaligus membuka jalan bagi apresiasi yang lebih luas atas produk-produk unggulan Indonesia di pasar Eropa Tengah.
Dukungannya terhadap karya diaspora Indonesia di Hongaria pun tak kalah nyata. Ia turut mendampingi peluncuran buku Exploring Hungary karya diaspora Indonesia, Gaganawati Stegmann, di KBRI Budapest — sebuah karya yang bahkan mendapat kata pengantar langsung dari Wening sendiri, menandai kedekatannya dengan komunitas WNI yang aktif berkarya di negeri orang.

Batik, Kebaya, dan Filosofi Hidup
Satu hal yang selalu melekat pada sosok Wening adalah kecintaannya pada busana nasional. Dalam banyak kesempatan resmi di kancah internasional, ia dengan sengaja mengenakan batik atau kebaya — bukan sekadar gaya, melainkan pendekatan yang ia sebut sendiri sebagai fashion diplomacy: cara memperkenalkan kekayaan Indonesia lewat hal paling personal, yaitu apa yang dikenakan seseorang.
Ia juga dikenal teguh memegang satu keyakinan: perempuan Indonesia tidak boleh membatasi diri untuk berkembang, di ranah apa pun mereka berkarier. Pesannya untuk generasi muda sederhana tapi dalam maknanya — kejarlah impian setinggi mungkin, dan jangan biarkan apa pun menghalangi langkah itu.
Menjelang akhir masa tugasnya, semangat diplomasi budaya itu tak pernah surut. Pada 26 Februari 2019, Wening masih menyempatkan diri hadir dan menyaksikan langsung sebuah pagelaran tari tradisional dalam acara pertukaran budaya yang berlangsung hangat di Budapest — kehadirannya menjadi simbol dukungan penuh terhadap upaya saling memahami antarwarga kedua negara. Baginya, diplomasi budaya adalah fondasi terkuat untuk menjaga hubungan persahabatan Indonesia dan Hungaria tetap erat, harmonis, dan berkelanjutan, bahkan jauh setelah masa baktinya di Budapest berakhir.
Tetap Aktif Usai Purnatugas
Meninggalkan Budapest bukan berarti Wening berhenti berkontribusi. Sebagai alumnus program persahabatan pemuda Indonesia-Jepang (Nakasone Programme) angkatan 1986, ia kini duduk sebagai Dewan Pengawas KAPPIJA21 (Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia Jepang Abad 21) — organisasi alumni yang menaungi lebih dari 4.100 anggota program pertukaran Indonesia-Jepang di seluruh Indonesia. Lewat peran ini, Wening masih kerap tampil mewakili Indonesia di forum-forum kerja sama internasional, termasuk pertemuan regional pemimpin muda ASEAN-Jepang, sekaligus terus membagikan pengalaman panjangnya sebagai diplomat kepada generasi yang lebih muda.

Suara Budapest di Ruang Podcast: Refleksi Wening tentang Hungaria
Jejak Wening di Hungaria rupanya belum selesai diceritakan. Beberapa waktu lalu, ia hadir sebagai narasumber dalam perbincangan siniar Newlitics yang tayang di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, mengupas kembali empat tahun masa baktinya di Budapest — kali ini bukan lewat protokol seremoni, melainkan lewat obrolan santai penuh cerita. Berikut tayangan lengkapnya.
Dalam perbincangan itu, Wening membuka cerita dari titik yang jarang terungkap: awal mula ia justru "tersasar" ke dunia diplomasi. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, putri seorang pegawai negeri di bidang perkebunan, ia mengaku mengikuti ujian seleksi Kementerian Luar Negeri di Jakarta hampir tanpa rencana matang — sekadar menumpang rombongan kecil yang berangkat mengikuti ajakan putri rektor Undip usai ia merampungkan kuliah Sastra Inggris di Semarang. Sebuah petunjuk sederhana dari pengawas ujian, agar ia mencantumkan kode jalur Pejabat Diplomatik dan Konsuler di berkasnya, ternyata menjadi titik balik yang membawanya melintasi pos-pos penugasan di Wina (Vienna, Austria), New York, dan Norwegia, sebelum akhirnya dipercaya memimpin KBRI di Budapest.
Ia lalu menautkan pengalamannya di Hungaria dengan sebuah gagasan besar tentang pariwisata sebagai instrumen diplomasi. Budapest, yang kerap dijuluki "Parisnya Eropa Timur", dibelah oleh Sungai Donau dan menyimpan sekitar seratus sumber air panas alami, namun bagi Wening yang lebih penting adalah bagaimana negara berpenduduk sekitar sepuluh juta jiwa itu memperlakukan pariwisata bukan sekadar pelengkap, melainkan mesin devisa sekaligus penyemai "Indonesianis" — istilah yang ia pinjam untuk menggambarkan orang asing yang jatuh cinta pada Indonesia. Ia menyinggung cara Thailand menjadikan restoran-restoran kecilnya di luar negeri sebagai duta kuliner, dan bagaimana Hungaria tanpa garis pantai sekalipun tetap mampu berprestasi di ajang olahraga dunia serta membangun nama besar di bidang pendidikan kedokteran, sambil menopang sistem pendidikan dan layanan kesehatan yang digratiskan atau disubsidi luas oleh negara.
Namun bagian yang paling menegaskan gaya diplomasinya adalah penekanannya pada pendekatan personal atau, sebagaimana ia menyebutnya, human-to-human relationship. Ia bercerita bagaimana dirinya rutin "blusukan" ke sekolah-sekolah menengah di berbagai penjuru Hungaria, membawa serta alumni penerima beasiswa Darmasiswa yang piawai memainkan gamelan Jawa dan Bali, sembari menggelar pemutaran film pendek dan kuis interaktif seputar Indonesia. Ia bahkan mempelajari langsung tarian tradisional Hungaria demi merangkul pejabat dan masyarakat setempat — sebuah prinsip yang ia simpulkan sendiri: seorang diplomat baru bisa memenangkan kepentingan negaranya bila lebih dulu memenangkan hati rakyat yang ia temui.
Menjelang penutup perbincangan, Wening turut menyinggung sejumlah pekerjaan rumah yang menurutnya relevan bagi Indonesia untuk banyak belajar dari Hungaria — mulai dari pengelolaan tata air dan teknologi water treatment, hingga akses pendidikan dan layanan kesehatan yang lebih terjangkau bagi masyarakat luas. Catatan-catatan kritis itu, disampaikannya bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai refleksi dari seorang diplomat yang telah menyaksikan langsung bagaimana negara kecil bisa mengoptimalkan setiap sumber daya yang dimilikinya.
Perbincangan di kanal Newlitics dan Helmy Yahya Bicara ini melengkapi rangkaian kisah Wening yang selama ini lebih banyak terekam lewat pemberitaan resmi KBRI dan media Hongaria. Lewat obrolan yang lebih personal dan reflektif ini, publik Indonesia mendapat sudut pandang baru: bahwa di balik protokol dan penghargaan yang ia terima, ada filosofi hidup yang konsisten ia pegang — bahwa diplomasi sejati dimulai dari kemauan untuk turun ke akar rumput dan merajut hubungan lintas bangsa dari hal-hal yang paling manusiawi.
Wening Esthyprobo Fatandari telah membuktikan bahwa dengan ketekunan panjang, integritas, dan sentuhan kreativitas, seorang diplomat bisa meninggalkan warisan yang jauh melampaui dokumen-dokumen negara — warisan yang tertanam dalam memori kolektif dua bangsa, dan terus ia rawat bahkan lama setelah masa baktinya di Budapest usai.

