
Laksda TNI Dr. H. Nazali Lempo, S.H., M.H., M.Tr.Opsla., CHRMP
Klik untuk melihat foto penuh
Click to view full photo
Profil & Teladan Featured Profile
Laksamana Muda TNI (Purn.) — lebih dari tiga dekade mengabdi, dari barak Marinir hingga puncak penegakan hukum militer
Rear Admiral (Ret.), Indonesian Navy — three decades of service, from the Marine Corps barracks to the summit of military law enforcement
Asal Mula Origins
Di kaki pegunungan Kerinci, tanah Jambi yang subur dan tenang, lahir seorang anak pada 14 Oktober 1965 yang kelak menempuh perjalanan panjang mengabdi bagi bangsanya. Namanya Nazali Lempo. Tak ada yang menduga bahwa dari kampung halaman yang jauh dari deru ombak, ia justru akan menghabiskan sebagian besar hidupnya mengenakan seragam TNI Angkatan Laut, menjaga tegaknya hukum di tengah disiplin dan kehormatan militer.
Nilai-nilai yang ia bawa dari kampung halamannya — kesederhanaan, kejujuran, dan kedekatan dengan sesama — menjadi bekal yang tak pernah ia tinggalkan. Bahkan ketika kelak ia menyandang pangkat laksamana bintang dua, orang-orang di sekitarnya tetap mengenalnya sebagai pribadi yang bersahaja dan merakyat, sosok yang mudah disapa siapa saja.
On 14 October 1965, in the fertile, unhurried province of Jambi at the foot of the Kerinci highlands, a boy was born who would spend a lifetime in service to his country. His name was Nazali Lempo. There was little in that landlocked childhood to suggest he would one day wear the uniform of the Indonesian Navy for most of his life, standing watch over the rule of law amid the discipline and honor of military service.
The values he carried from home — humility, honesty, and an easy closeness with ordinary people — never left him. Even after he rose to wear the two stars of a rear admiral, those who knew him still described him as unassuming and approachable, a man just as comfortable talking with villagers as with admirals.
Pendidikan Militer Naval Training
Panggilan untuk mengabdi membawanya menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Laut (AAL), tempat disiplin bukan sekadar aturan, melainkan cara hidup. Ia lulus sebagai bagian dari angkatan ke-36 tahun 1990 dan resmi dilantik sebagai Letnan Dua TNI pada 26 Juli 1990, salah satu angkatan yang sejumlah alumninya kelak turut menempati posisi-posisi penting di tubuh TNI Angkatan Laut.
Pendidikan dasar itu hanyalah permulaan. Sepanjang kariernya, ia tercatat menuntaskan tak kurang dari dua puluh satu jenjang pendidikan dan pelatihan militer — mulai dari kualifikasi lapangan seperti Dikspespa Infanteri dan Sus Para Dasar (kualifikasi terjun payung), hingga kualifikasi selam (Scuba Diver) dan menembak, serta pendidikan pengembangan perwira lanjutan seperti Diklapa-II/Kopur. Ia juga menuntaskan pendidikan strategis di tingkat lanjutan, termasuk Sekolah Staf dan Komando TNI AD (Seskoad) Angkatan ke-42 pada 2004, program KIBI Angkatan ke-7 di Departemen Pertahanan pada 2006, dan Dikreg Sespimti Polri Angkatan ke-23 pada 2014 — jenjang pendidikan lintas matra yang jarang ditempuh perwira dari satu korps saja.
Tahun-tahun pendidikan itu menempa lebih dari sekadar keterampilan militer. Ia menanamkan keteguhan prinsip dan rasa tanggung jawab yang terus menuntun setiap langkah kariernya, dari geladak kapal hingga meja hukum, sepanjang lebih dari tiga dekade pengabdian yang kemudian ia jalani.
The call to serve led him to the Indonesian Naval Academy (Akademi Angkatan Laut), where discipline was less a rule than a way of life. He graduated with the Class of 1990 — the academy's 36th intake — and was formally commissioned as a Second Lieutenant on 26 July 1990, part of an intake that would later produce several senior officers of the Indonesian Navy.
That foundation was only the beginning. Over the course of his career he completed no fewer than twenty-one separate military education and training programs — field qualifications such as advanced infantry and airborne training, scuba-diving and marksmanship certifications, and advanced officer development courses such as Diklapa-II/Kopur. He went on to complete advanced strategic-level education as well, including the Army Command and Staff College (Seskoad), class of 42, in 2004; the KIBI course (class 7) at the Ministry of Defense in 2006; and the Indonesian National Police's senior command program (Sespimti Polri), class of 23, in 2014 — a breadth of cross-service education uncommon for an officer of a single corps.
Those years shaped more than military skill. They instilled a steadiness of principle and a sense of duty that would guide him from the ship's deck to the courtroom, over the three decades of service that followed.
Jenjang Karier Career
Karier Nazali Lempo diawali di jajaran Korps Marinir, sebagai Komandan Peleton di Batalyon-2 Marinir pada awal 1990-an, sebelum pada 1996 ia dipercaya merangkap sebagai Komandan Kompi Batalyon-2 Marinir sekaligus Komandan Detasemen Pengamanan Markas Besar TNI (Dankisatpamwal Mabes TNI) — awal keterlibatannya di jalur yang menuntut keberanian sekaligus kehati-hatian: Polisi Militer dan Oditurat, dunia yang bertugas menjaga agar hukum tetap tegak, bahkan di dalam institusi yang paling disiplin sekalipun. Dari Tanjung Pinang, Makassar, hingga Padang, ia berpindah dari satu komando ke komando lain, memimpin unit Polisi Militer Angkatan Laut di Lantamal IV, VI, dan III, sebelum akhirnya kembali ke pusat komando di Jakarta.
Langkah demi langkah, tanggung jawab yang diembankan kepadanya terus membesar. Ia sempat menyandang pangkat Laksamana Pertama (Laksma) pada 4 September 2018 saat dipercaya memimpin Puspomal, lalu naik pangkat dua bintang sebagai Laksamana Muda (Laksda) pada 28 Agustus 2020. Setahun kemudian, ia dipercaya memimpin Pusat Polisi Militer TNI — jabatan tertinggi di lingkungan Polisi Militer gabungan tiga matra, yang secara resmi mulai diembannya pada 19 Juli 2021 dan dilantik secara seremonial pada 23 Juli 2021. Lebih dari setahun kemudian, pada 4 November 2022, ia dipindahtugaskan menjadi Oditur Jenderal TNI, jabatan penegakan hukum militer tertinggi yang diembannya hingga purnatugas.
Nazali Lempo's career began in the Marine Corps, as a platoon commander with the 2nd Marine Battalion in the early 1990s, before in 1996 he was entrusted with a dual role as Company Commander of the 2nd Marine Battalion and Commander of the Armed Forces Headquarters Security Detachment (Dankisatpamwal Mabes TNI) — his first step into a field that demanded both courage and discretion: the Military Police and the Military Prosecution Service, two arms of the armed forces tasked with enforcing the law and discipline within their own ranks. From Tanjung Pinang to Makassar and Padang, he moved from one command to the next, leading Naval Military Police units at Lantamal IV, VI, and III, before eventually returning to the command center in Jakarta.
Step by step, greater responsibility followed. He was promoted to First Admiral (Laksma) on 4 September 2018 while commanding the Naval Military Police Center, then rose to the two stars of a Rear Admiral (Laksda) on 28 August 2020. A year later, he was entrusted with leading the Armed Forces' Central Military Police — the senior-most Military Police post spanning all three services — a role he formally assumed on 19 July 2021 and was ceremonially inducted into on 23 July 2021. Over a year after that, on 4 November 2022, he was reassigned as Judge Advocate General of the Armed Forces, the most senior military law enforcement post, which he held until his retirement.

* Berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1122/XI/2022 tanggal 4 November 2022, ia dipindahtugaskan dari Komandan Pusat Polisi Militer TNI menjadi Oditur Jenderal TNI — pejabat yang berwenang bertindak sebagai penuntut umum di lingkungan peradilan militer, setara jaksa dalam peradilan umum — jabatan yang diembannya hingga purnatugas. Selama lebih dari tiga puluh tahun berdinas, ia tercatat menjabat pada sedikitnya sembilan belas posisi komando dan staf yang berbeda.
* Per Indonesian Armed Forces Commander's Decree No. Kep/1122/XI/2022, dated 4 November 2022, he was reassigned from Chief of the Central Military Police to Judge Advocate General of the Armed Forces — the officer authorized to act as public prosecutor within the military justice system, equivalent to a state prosecutor in civilian courts — a post he held until his retirement. Over more than thirty years of service, his record lists at least nineteen distinct command and staff postings.
“Pangkat bukan tameng, jabatan bukan pelindung — hukum harus tegak setara bagi siapa pun.”
“Rank is not a shield, and office is not a refuge — the law must stand equal for everyone.”

Dunia Akademik Academic Life
Di tengah kesibukan tugas militer yang menuntut disiplin tinggi, Nazali Lempo tidak pernah berhenti mengasah diri lewat jalur akademik. Ia menempuh gelar Magister Hukum dari Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makassar, pada 2009, lalu kembali menuntaskan program Doktor Ilmu Hukum di kampus yang sama. Lebih mengejutkan lagi, ia juga tercatat baru menyelesaikan gelar Sarjana Hukum (S1) pada 2025 — sebuah bukti nyata bahwa baginya, jalur pendidikan formal tidak harus berurutan, selama semangat belajar terus menyala di setiap tahap kehidupan.
Gelar-gelar itu bukan sekadar simbol prestise. Ia menjadi bukti bahwa dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab besar sebagai perwira tinggi, memadukan pengalaman lapangan dan puluhan pendidikan serta pelatihan militer dengan pemahaman hukum yang terus diperdalam, bahkan hingga masa purnabakti.
Amid the demands of military duty, Nazali Lempo never stopped sharpening his mind through academic study. He earned a Master's degree in Law from Hasanuddin University (UNHAS) in Makassar in 2009, then went on to complete a Doctorate in Law at the same institution. More strikingly still, his record shows he only completed his Bachelor's degree in Law (S1) in 2025 — clear evidence that, for him, formal education need not follow a conventional order, so long as the will to keep learning stays alive at every stage of life.
These degrees were never simply marks of prestige. They were proof that a devotion to learning could walk hand in hand with the demands of senior command, pairing decades of field experience and dozens of military courses with a grasp of the law that he kept deepening well into retirement.

Kehormatan Honor
Sepanjang pengabdiannya, Nazali Lempo dikenal sebagai sosok yang tegas namun tetap menjunjung nilai keadilan. Rekam jejaknya mencatat sedikitnya tiga belas tanda kehormatan dan tanda jasa dari negara dan TNI Angkatan Laut, mulai dari bintang jasa atas kepemimpinan hingga satyalancana kesetiaan yang mencerminkan tiga dekade lebih masa baktinya:
Throughout his service, Nazali Lempo was known as a man of firmness who never lost sight of fairness. His record includes at least thirteen distinctions and service medals from the state and the Indonesian Navy, ranging from leadership decorations to loyalty medals reflecting more than three decades of active duty:
Purnabakti Life After Service
Memasuki masa purnabakti, semangat Nazali Lempo untuk berkontribusi bagi masyarakat tidak pernah surut. Ia mendirikan sekaligus memimpin Gerakan Suara Masyarakat Indonesia (Gersuma Indonesia), organisasi kemasyarakatan yang menjadi wadah aspirasi dan pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah, mulai dari ekonomi hingga sumber daya manusia.
Ia juga memimpin Himpunan Keluarga Kerinci Jabodetabek sebagai Ketua Umum, wadah silaturahmi bagi perantau asal Kerinci di ibu kota, sekaligus dipercaya sebagai Dewan Pembina Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas) dan menduduki posisi Komisaris Independen di Patra Jasa, anak perusahaan Pertamina. Melalui peran-peran ini, ia menunjukkan bahwa pengabdian sejati tidak mengenal batas usia, selama semangat untuk memberi manfaat bagi sesama masih menyala.
In retirement, Nazali Lempo's drive to contribute to society never dimmed. He founded and now leads Gerakan Suara Masyarakat Indonesia (Gersuma Indonesia — the Indonesian People's Voice Movement), a community organization serving as a channel for public aspiration and grassroots empowerment across the country, from economic development to human resources.
He also chairs the Kerinci Family Association of Jabodetabek (Himpunan Keluarga Kerinci Jabodetabek), a fellowship for Kerinci natives living in the greater Jakarta area, and serves on the advisory board of the Golden Indonesia Society Forum (Formas), as well as holding a seat as Independent Commissioner at Patra Jasa, a subsidiary of the state oil company Pertamina. Through these roles, he shows that genuine service has no retirement age — only a willingness to keep giving.



Perjalanan hidup Nazali Lempo mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: kehormatan sejati lahir dari konsistensi menjaga integritas, sebesar apa pun godaan atau tekanan yang menyertainya. Dari kampung halaman di Kerinci, disiplin keras di Akademi Angkatan Laut, sembilan belas jabatan komando dan staf, hingga tiga belas tanda jasa sepanjang lebih dari tiga dekade berdinas, satu benang merah tak pernah putus: semangat untuk terus belajar dan memberi.
Kisah ini bukan sekadar catatan tentang sebuah karier, melainkan cermin tentang bagaimana ketegasan dapat berjalan seiring kerendahan hati, dan keberanian dapat berpadu dengan kebijaksanaan. Sebuah teladan yang layak dikenang, dan diwariskan.
The story of Nazali Lempo's life teaches something simple yet profound: true honor is built from the steady practice of integrity, no matter how great the pressure to compromise it. From the highlands of Kerinci, through the rigor of the Naval Academy, nineteen command and staff postings, to thirteen service decorations across more than three decades in uniform, one thread runs unbroken: a readiness to keep learning, and to keep giving.
This is more than a record of a career. It is a portrait of how firmness can walk alongside humility, and how courage can be tempered by wisdom. It is a life worth remembering — and worth passing on.

Laksda TNI (Purn.) Dr. H. Nazali Lempo, S.H., M.H., M.Tr.Opsla., CHRMP Rear Admiral (Ret.) Dr. H. Nazali Lempo, S.H., M.H., M.Tr.Opsla., CHRMP