Kabar DukaKabar duka disampaikan melalui akun Instagram resmi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM (@bkpm_id) pada Minggu malam, 5 Juli 2026, mengumumkan berpulangnya Andre Omer Siregar bin Ibnu Ash Djamil Siregar, Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal.
Beliau wafat beberapa hari setelah merayakan ulang tahun ke-52, dan baru sekitar tiga bulan menjabat sebagai Deputi BKPM sejak pelantikannya pada 27 Maret 2026.
Di balik setiap pertemuan Presiden Republik Indonesia dengan para pemimpin dunia, terdapat sosok-sosok yang bekerja dengan ketelitian tinggi agar setiap pesan tersampaikan secara tepat, utuh, dan sesuai dengan semangat diplomasi. Salah satu di antaranya adalah Andre Omer Siregar. Selama lebih dari dua dekade mengabdi sebagai diplomat karier, ia meniti perjalanan yang membawanya dari ruang-ruang sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa, meja perundingan para kepala negara, hingga memimpin berbagai perwakilan diplomatik Indonesia di luar negeri — sebuah pengabdian yang berakhir dengan kepergiannya pada 5 Juli 2026.
Perjalanan tersebut bukan sekadar rangkaian penugasan, melainkan cerminan dedikasi seorang diplomat yang tumbuh bersama dinamika hubungan internasional Indonesia. Berbekal pengalaman lintas negara dan lintas budaya sejak usia muda, Andre dikenal sebagai diplomat yang menggabungkan ketajaman analisis, kemampuan komunikasi, serta kepemimpinan dalam membangun kemitraan strategis bagi Indonesia.
Diplomasi bukan sekadar seni bernegosiasi, melainkan pengabdian panjang untuk menghadirkan Indonesia secara bermartabat di panggung dunia.
28
Tahun Pengabdian Diplomatik
10
Tahun Mendampingi Presiden RI
5+
Negara Penugasan Utama
52
Usia Saat Berpulang
Tumbuh dalam Lingkungan Diplomasi
Andre Omer Siregar lahir pada 1 Juli 1974 dari keluarga yang telah lama mengabdikan diri kepada diplomasi Indonesia. Ayahnya, Ibnu Ash Djamil Siregar, merupakan diplomat senior yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Yaman pada periode 1996–2000. Dari garis keluarganya pula, Andre memiliki hubungan dengan salah satu tokoh besar diplomasi Indonesia, Adam Malik, yang merupakan paman buyutnya.
Masa kecil Andre diwarnai perpindahan dari satu negara ke negara lain mengikuti penugasan ayahnya. Ia pernah tinggal di Inggris, Australia, Selandia Baru, hingga Yaman. Kehidupan di lingkungan internasional sejak usia dini membentuk cara pandangnya terhadap keberagaman budaya, pentingnya dialog antarbangsa, serta kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi. Pengalaman tersebut menjadi fondasi yang kelak sangat membantunya menjalankan tugas-tugas diplomatik di berbagai belahan dunia.
Dari Dunia Korporasi Menuju Pengabdian Negara
Meski dibesarkan dalam keluarga diplomat, Andre tidak langsung memilih jalur yang sama. Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi di Victoria University of Wellington, Selandia Baru, ia memulai karier profesional di sektor swasta sebagai staf pemasaran Procter & Gamble Indonesia.
Namun, perubahan besar yang terjadi di Indonesia pada era Reformasi 1998 menjadi titik balik kehidupannya. Di tengah semangat pembaruan nasional, Andre memutuskan meninggalkan dunia korporasi dan mengikuti seleksi Kementerian Luar Negeri. Keinginannya untuk terus belajar juga membawanya meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dan Master of Diplomacy and Trade (MDT) dari Monash University, Australia. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di Charles Darwin University dengan fokus penelitian mengenai Poros Maritim Global Indonesia dan diplomasi di kawasan Indo-Pasifik.
1998
Bergabung dengan Kementerian Luar Negeri RI
Diterima setelah mengikuti seleksi pasca-Reformasi 1998; penugasan pertamanya di Timor Timur pada 1999 sebagai pengamat dalam proses konsultasi rakyat bersama PBB.
2004 – 2008
Perutusan Tetap RI untuk PBB, New York
Menangani agenda pembangunan, kemanusiaan, keamanan global, dan dampak tsunami Samudra Hindia.
2011
Penerjemah Tetap Presiden RI
Menjadi penerjemah tetap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak 20 Januari 2011, mendampingi dalam G20, ASEAN, APEC, dan Sidang Umum PBB selama hampir satu dekade.
2014 – 2018
Konsul RI di Darwin, Australia
Tiba di Darwin 18 Desember 2014 sebagai konsul termuda Indonesia di Australia; memperkuat hubungan ekonomi, perdagangan, pendidikan, dan kemaritiman dengan Northern Territory.
2018 – 2021
Direktur Kerja Sama Asia Pasifik dan Afrika
Memimpin delegasi Indonesia di IORA dan APEC; mendorong kerja sama ekonomi digital dan konektivitas kawasan Indo-Pasifik.
2021 – 2024
Konsul Jenderal RI di Houston, Amerika Serikat
Mendorong kolaborasi Baylor–Bio Farma, kerja sama Pertamina–ExxonMobil, dan promosi Presidensi G20 Indonesia.
27 Maret 2026
Dilantik sebagai Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal, BKPM
Mengemban amanah memperluas kemitraan investasi Indonesia di tingkat global.
5 Juli 2026
Wafat
Berpulang di usia 52 tahun, sekitar tiga bulan setelah dilantik sebagai Deputi BKPM.
Membawa Suara Indonesia di PBB
Pada periode 2004–2008, Andre bertugas di Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Di jantung diplomasi multilateral dunia, ia terlibat dalam berbagai pembahasan mengenai pembangunan internasional, bantuan kemanusiaan, keamanan global, serta kerja sama ekonomi dan sosial. Ia juga menangani berbagai agenda yang berkaitan dengan penanganan dampak tsunami Samudra Hindia, isu pembangunan negara berkembang, hingga kerja sama internasional dalam memerangi penyelundupan manusia.
Pengalaman tersebut memperluas perspektifnya mengenai bagaimana kepentingan nasional Indonesia diperjuangkan melalui diplomasi internasional yang mengedepankan dialog, kolaborasi, dan konsensus.
Menjadi Penerjemah Presiden Republik Indonesia
Salah satu babak paling istimewa dalam perjalanan Andre adalah ketika ia dipercaya menjadi penerjemah Presiden Republik Indonesia. Kepercayaan itu bermula ketika ia menjadi penerjemah pengganti untuk Presiden Megawati Soekarnoputri dalam sebuah pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Australia John Howard.
Sejak 20 Januari 2011, Andre menjadi penerjemah tetap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selama hampir sepuluh tahun, ia mendampingi Presiden dalam berbagai kunjungan kenegaraan, pertemuan bilateral, dan forum internasional seperti G20, ASEAN, APEC, serta Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dalam dunia diplomasi, penerjemah bukan sekadar mengalihkan bahasa. Ia harus mampu menangkap makna, nuansa, dan kepentingan yang terkandung dalam setiap kalimat.
Memperkuat Diplomasi Indonesia di Australia
Pada akhir 2014, Andre dipercaya memimpin Konsulat Republik Indonesia di Darwin, Australia, menjadikannya konsul Indonesia termuda di Australia saat itu, di usia 40 tahun. Kota yang terletak di wilayah utara Australia ini memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu pintu gerbang terdekat antara Australia dan Indonesia. Selama bertugas, Andre mendorong penguatan hubungan ekonomi, perdagangan, pendidikan, kemaritiman, serta kerja sama masyarakat antara Northern Territory dan berbagai provinsi di kawasan timur Indonesia.
Pendekatannya menempatkan diplomasi bukan hanya sebagai hubungan antar-pemerintah, tetapi juga sebagai upaya membangun kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara.
Menguatkan Peran Indonesia di Indo-Pasifik
Pengalaman di Australia membawanya dipercaya menjabat sebagai Direktur Kerja Sama Intra dan Antar Kawasan Asia Pasifik dan Afrika pada Kementerian Luar Negeri sejak Januari 2018. Dalam posisi tersebut, Andre memimpin berbagai delegasi Indonesia pada forum regional seperti Indian Ocean Rim Association (IORA) dan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Ia turut mendorong penguatan kerja sama ekonomi digital, konektivitas kawasan, serta peningkatan kemitraan strategis di Indo-Pasifik. Fase ini semakin mempertegas fokus kariernya pada diplomasi ekonomi sebagai salah satu instrumen penting dalam politik luar negeri Indonesia.
Membangun Kemitraan Strategis di Amerika Serikat
Pada 2021, Andre mulai menjalankan tugas sebagai Konsul Jenderal Republik Indonesia di Houston, Amerika Serikat, hingga 2024. Houston dikenal sebagai salah satu pusat industri energi, teknologi, kesehatan, dan penelitian di dunia. Selama memimpin Konsulat Jenderal RI di Houston, Andre mendorong kolaborasi antara Baylor College of Medicine dan Bio Farma dalam pengembangan vaksin Covid-19, memperkuat kerja sama sektor energi antara Pertamina dan ExxonMobil, serta mempromosikan Presidensi G20 Indonesia kepada berbagai mitra di Amerika Serikat.
Kiprahnya di Houston menunjukkan bagaimana diplomasi modern tidak hanya berfokus pada hubungan politik, tetapi juga membuka peluang di bidang investasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesehatan, dan inovasi.
Mengawal Diplomasi Investasi Indonesia
Sekembalinya ke Indonesia, Andre memperoleh amanah baru sebagai Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal pada Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dilantik pada 27 Maret 2026. Penugasan ini menjadi kelanjutan yang alami dari seluruh pengalaman internasional yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun. Berbekal pemahaman mendalam mengenai hubungan bilateral, diplomasi multilateral, dan kerja sama ekonomi, ia berperan memperluas kemitraan investasi Indonesia dengan berbagai negara — sebuah amanah yang hanya sempat dijalankannya selama sekitar tiga bulan sebelum kepergiannya pada 5 Juli 2026.
Perjalanan Andre Omer Siregar memperlihatkan bagaimana seorang diplomat tidak hanya mewakili negaranya dalam perundingan internasional, tetapi juga menjadi penghubung berbagai kepentingan yang dapat membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Dari ruang sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, meja perundingan para kepala negara, hingga berbagai pusat diplomasi dan ekonomi dunia, ia telah menjalankan peran sebagai jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan komunitas internasional.
Jejak kariernya mencerminkan wajah diplomasi Indonesia yang semakin adaptif terhadap tantangan global—mengedepankan dialog, membangun kepercayaan, memperluas kemitraan, dan menjadikan diplomasi sebagai bagian penting dari upaya mewujudkan pembangunan nasional. Kepergiannya pada 5 Juli 2026 menjadi kehilangan bagi dunia diplomasi dan investasi Indonesia, namun jejak pengabdiannya selama hampir tiga dekade tetap menjadi teladan bahwa diplomasi bukan sekadar seni bernegosiasi, melainkan pengabdian panjang untuk menghadirkan Indonesia secara bermartabat di panggung dunia.
✦✦✦
One comment
Allahummagfirlahu Warhamhu waafihi Wa’fu anhu, aamiin ya Rabbal ‘aalamiin