Ahsanta Web

Logo Ahsantaweb

Dari Pembersih Kamar hingga Kursi Manajer: Kisah Nyata Toto Kaneda Melawan Waktu di Negeri Sakura

Toto Kaneda Rich di Oakwood Suites Yokohama
Toto Kaneda Rich di Oakwood Suites Yokohama — dari pembersih kamar, kini memimpin tim housekeeping di hotel-hotel bergengsi Jepang.

Saya pertama bertemu Toto Kaneda Rich pada 2017, di sebuah acara bisnis Enagic di Bandung—kurang dari satu jam, sekadar berbincang dan berfoto. Bertahun-tahun kemudian, tak disangka jalan hidup mempertemukan kami kembali di Jepang.

Pertemuan pertama di Bandung, 2017
Pertemuan pertama penulis dengan Toto di Bandung, 2017.
Wawancara di Bandara Haneda
Obrolan santai dan wawancara di Bandara Haneda, Tokyo.
Dari perjumpaan singkat di Bandung pada 2017 hingga pertemuan bermakna di Terminal 3 Bandara Haneda, Tokyo.

Terminal 3 Bandara Haneda pada pukul enam sore adalah simfoni keteraturan Jepang: pengumuman bernada lembut, langkah-langkah kaki berirama, serta aroma kopi yang berpadu harum roti melon dari sudut koridor. Di sebuah kafe dekat gerbang internasional, saya duduk menunggu seseorang—pria yang perjalanannya membuktikan bahwa ketangguhan sejati tidak mengenal batas usia.

Tak lama kemudian ia datang: langkah cepat namun tenang, senyum ramah, dan tubuh tegap meski seharian bekerja membersihkan kamar-kamar hotel di Yokohama. Ia adalah Toto Kaneda Rich. Memesan secangkir kopi hitam tanpa gula, ia berkata, “Sudah terbiasa pahit.” Kalimat pembuka yang langsung membawa saya menyelami kisah hidupnya yang luar biasa.

Akar Kesederhanaan di Ciumbuleuit

Jauh sebelum namanya disandingkan dengan kata “Rich” di Jepang, Toto tumbuh di gang kecil Ciumbuleuit, Bandung. Ayahnya, almarhum Suparmin, adalah seorang perajin sofa andal yang pelanggannya datang dari berbagai kalangan terpandang—mulai dari keluarga Presiden Sukarno, BJ Habibie, hingga musisi legendaris Bimbo. Di bawah didikan orang tua yang sederhana namun disiplin, Toto kecil tumbuh menjadi anak yang penurut.

Kemandiriannya ditempa sejak remaja saat tinggal bersama kakeknya di Cijerah. Di masa mudanya, ia juga menjalin persahabatan yang erat dengan keluarga ekspatriat asal Amerika yang tinggal di sebelah rumahnya.

Toto bersama keluarga Keith dan Patty Norris
Toto bersama keluarga Keith dan Patty Norris, serta kedua putri mereka, Jasmine dan Aneila—tetangga sebelah rumah di Ciumbuleuit yang menjadi keluarga kedua baginya.

Bahkan, ia sempat ikut berkunjung dan tinggal bersama keluarga Norris di Magelang, termasuk saat menikmati perjalanan menapaki situs bersejarah.

Toto dan Keith Norris di Candi Borobudur
Toto and Keith Norris di Candi Borobudur, Magelang, tahun 1991—salah satu perjalanan bersama keluarga Norris selama tinggal di sana kurang lebih empat bulan.
Toto muda bersama Ibu Valerie
Toto muda bersama Ibu Valerie, yang berniat menyekolahkannya di sebuah universitas di Florida. Izin baru diberikan Mama Maryati setelah Toto memilih meminta izin magang ke Jepang.

Dari Magang 1995 hingga Membungkam Cibiran

Tahun 1995, Toto menjadi bagian dari program magang (Kenshuusei) ke Jepang melalui IM Japan. Di bawah gemblengan instruktur yang sangat disiplin—yang kelak menginspirasi nama Jepangnya, Kaneda Sensei—ia menyerap etos kerja keras. Sekembalinya ke Indonesia, krisis moneter melanda, namun pengalaman itu menjadi fondasi mental yang kokoh.

Rombongan peserta program magang berangkat dari Indonesia, mengenakan batik dan kopiah hitam yang seragam—wajah-wajah muda yang membawa mimpi yang sama. 22 September 1995
“Sejak Juni 2019 visa itu keluar, Agustus saya sudah ikut seminar di Jakarta. Orang lain masih bertanya-tanya, saya sudah berlari.” — Toto Kaneda Rich

Ketika pemerintah Jepang meluncurkan visa Tokutei Ginou (Specified Skilled Worker / SSW) pada 2019, di usia 46 tahun, Toto langsung mengambil peluang tersebut. Langkahnya sempat ditertawakan oleh sebagian orang yang menganggapnya sudah terlalu tua dan menyarankannya mengurus cucu saja. Namun, cibiran itu justru ia jadikan bahan bakar untuk membuktikan bahwa usia hanyalah angka.

Toto mengikuti wawancara kerja ke Jepang
Oktober 2019 — Toto mengikuti wawancara kerja ke Jepang di usia 46 tahun. Di meja yang sama di mana orang lain melihat usia sebagai penghalang, ia melihatnya sebagai pengalaman.

Guru Tanpa Gelar dan Badai Penipuan

Sebelum kembali ke Jepang, Toto memilih merintis jalan bagi sesama. Ia membangun komunitas belajar mandiri via WhatsApp, mengajar persiapan ujian SSW secara sukarela, hingga berhasil meluluskan lebih dari 200 orang—termasuk peserta berusia 55 tahun.

Kopdar dan kelulusan 200 peserta SSW
Awal 2020, kopdar pertama peserta bimbingan Toto di Universitas Gunadarma—lebih dari 200 orang lulus ujian SSW Pengolahan Makanan.
Wawancara kerja di Tangerang
Suasana wawancara kerja di Tangerang: dari 100 peserta bimbingan, 57 orang diterima. Sayangnya, pandemi menghantam setelah momen ini.

Namun, ujian berat menghantam ketika ia terseret dalam pusaran penipuan oknum tak bertanggung jawab yang merugikan calon pekerja senilai Rp200 juta. Meskipun ia sendiri adalah korban, beban moral karena telah mengenalkan sosok tersebut membuatnya berupaya keras melunasi dan menanggung kerugian tersebut. Ujian ini mengantarkannya berangkat ke Jepang pada Juli 2022 dalam kondisi finansial yang benar-benar nol dan tekanan mental luar biasa.

Ujian SSW Building Cleaning
Setelah sempat tertipu, saya mengikuti ujian SSW Building Cleaning pertama di Indonesia pada November 2021 dan berhasil lulus.

Modal 10.000 Yen dan Karier yang Melesat

Mendarat kembali di Jepang pada usia 49 tahun dengan modal di kantong hanya 10.000 Yen (sekitar satu juta rupiah), Toto membuktikan bahwa nama baik dan integritas jauh lebih berharga daripada isi rekening. Berkat kebaikan rekan-rekan yang dulu pernah ia bantu, ia berhasil bangkit dari titik nadir.

Berangkat ke Jepang dengan modal terbatas
6 Juli 2022 — Membawa 10.000 yen, satu-satunya bekal finansial untuk kontrak 5 tahun di Jepang.

Melalui etos kerja tanpa kompromi di bidang Building Cleaning, kariernya melesat. Dari pembersih kamar biasa di Hotel Westin Yokohama, ia naik menjadi pengawas kualitas (Checker), hingga dipercaya mengemban posisi prestisius sebagai Manajer Housekeeping di hotel-hotel bergengsi seperti Oakwood Suites Yokohama dan LYF Hotel Tenjin Fukuoka di bawah grup Ascott.

Toto Kaneda Rich

“Saya tidak pernah menargetkan jadi manajer. Saya hanya menargetkan untuk mengerjakan setiap kamar seolah itu kamar terakhir yang akan saya bersihkan dalam hidup saya. Sisanya, mengikuti.”

Kejujurannya bahkan memenangkan hati sang shachou (pimpinan perusahaan), yang kini mempercayakannya untuk membantu manajemen rekrutmen tenaga kerja profesional asal Indonesia khusus untuk bidang SSW Building Cleaning di hotel.

Tim Kaneda Rich Berangkat ke Jepang
Walau sambil bekerja, Toto terus produktif memberangkatkan banyak orang menuju karier impian mereka di Jepang.
Hasil karya terbaik Toto di hotel
Standar kerapian dan dedikasi tingkat tinggi ala perhotelan bintang lima di Jepang.
Toto meraih banyak penghargaan
Penghargaan dan apresiasi atas kinerja luar biasa yang diraihnya di Negeri Sakura.

Filosofi Syukur dan Visi untuk Negeri

Bagi Toto, pencapaian ini bukan sekadar soal jabatan atau gaji besar, melainkan buah dari rasa syukur yang tulus dan loyalitas.

“Seberapa pun besarnya gaji, kalau rasa syukurnya kurang, tetap tidak akan cukup.” — Toto Kaneda Rich

Menjelang tahun kelimanya di Jepang, ia menatap masa depan dengan misi mulia: mendirikan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) khusus bidang perhotelan di tanah air untuk membekali generasi muda dengan kompetensi matang dan melindungi mereka dari jerat penipuan.

Pertemuan di Haneda malam itu adalah pengingat bahwa kegagalan dan usia bukanlah titik henti, melainkan transisi menuju pembuktian yang lebih besar. Toto Kaneda telah membuktikannya.
× Zoomed Image

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *