Ahsanta Web

Logo Ahsantaweb
Memoar & Catatan Jurnalistik Sejarah

Tujuh Dekade Taur Matan Ruak: Dari Hutan Sunyi ke Panggung Kekuasaan

Sebuah perjumpaan intim di Dili, kejujuran mengenai rasa takut di garis depan, dan wejangan politik yang mengubah jalannya sejarah.

Taur Matan Ruak
“Kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan kemampuan mendengar dan menjawab panggilan rakyat.” — Taur Matan Ruak

Nama José Maria Vasconcelos lekat dengan sejarah pergerakan kemerdekaan Timor-Leste. Namun, dunia lebih mengenalnya lewat nama gerilyanya: Taur Matan Ruak—yang harfiah berarti “Dua Mata yang Tajam”. Lahir di Baguia, Baucau, pada 10 Oktober 1956, ia adalah bagian dari generasi yang menyaksikan langsung bagaimana tanah airnya terkoyak perang, sebelum akhirnya memilih jalan sunyi namun berbahaya: mengangkat senjata bersama FALINTIL di pedalaman hutan.

Dua Puluh Empat Tahun di Bawah Kanopi Hutan

Hampir seperempat abad Taur Matan Ruak hidup berpindah dari satu punggung bukit ke bukit lainnya. Tanpa pasokan logistik yang pasti, dikelilingi ancaman patroli musuh, hutan belantara adalah rumah sekaligus medan pertempurannya.

“Ha’u nia background ne’e militar, iha militar ne’e iha prinsipiu ida dehan hanesan ne’e: ‘Hein buat di’ak mas prepara an mós ba buat at’ ne’ebé ha’u preparadu ba kualker situasaun.” — Komandante Jenerál Taur Matan Ruak (Latar belakang saya militer. Di militer ada prinsip: ‘Berharap yang terbaik, tetapi tetap siap menghadapi yang terburuk’.)

April 2011: Di Ruang Kerja Pak Taur

Pagi di awal April 2011 itu di Dili, Jobelo—jurnalis senior Tempo Semanal—memberi saya satu peringatan kecil sebelum kami melangkah masuk ke ruangan Pak Taur: “Bro, beliau sangat sibuk, cukup sepuluh menit saja.” Saat itu, saya mendapat mandat merancang portal website personal beliau, sebuah proyek digital yang kelak diarsipkan secara resmi oleh Library of Congress America di Washington D.C.

Karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di hutan, beliau terbiasa menggunakan bahasa Inggris alih-alih bahasa Indonesia. Perbincangan kami pun mengalir cair. Di sela-sela obrolan tersebut, saya melempar satu pertanyaan:

“Pak Taur, selama 24 tahun memimpin perjuangan di garis depan pertempuran, apa yang sebenarnya Bapak rasakan ketika peluru mulai berdesing di sekitar Bapak?”

Beliau tersenyum kecil: “Namanya juga manusia biasa. Tentu saya merasa takut, sama seperti orang lain. Tapi, kalau tujuan perjuangan sudah bulat dalam pikiran kita, keberanian itu akan datang dengan sendirinya…”

Waktu 10 menit dari Jobelo berlalu begitu saja. Kami berbicara hampir satu jam. Di ujung pertemuan, Pak Taur menitipkan sebuah wejangan:

“Jika Anda merasa orang baik, jangan ragu untuk masuk ke panggung politik. Sebab jika orang-orang baik memilih menjauh, arena itu akan diisi oleh orang yang keliru, dan rakyatlah yang akan menanggung bebannya…”

Dokumentasi Perjumpaan (Dili, 2011)

Arsip 1
Arsip 2

Dari Nasihat ke Kursi Kepemimpinan

Wejangan agar orang baik tidak menjauh dari politik itu menemukan buktinya sendiri. Tepat setahun setelah perjumpaan tersebut, Taur Matan Ruak maju ke gelanggang sipil dan terpilih sebagai Presiden Republik Demokratik Timor-Leste, dilantik pada 20 Mei 2012. Pengabdiannya berlanjut ketika ia memegang tampuk kepemimpinan sebagai Perdana Menteri pada periode 2018–2023.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *