Ahsanta Web

Logo Ahsantaweb
Secangkir Kopi di Beranda Dili — persahabatan Timor-Leste dan Jepang lewat secangkir kopi

Secangkir Kopi di Beranda Dili: Cerita Dua Sahabat Menatap Masa Depan

Pernahkah kita membayangkan seperti apa persahabatan antara dua negara jika dilihat dari kehidupan sehari-hari?

Diplomasi sering kali terdengar jauh dan resmi: ruang pertemuan, meja konferensi, bendera yang berdiri berdampingan, serta dokumen kerja sama yang ditandatangani para pejabat. Tetapi sesungguhnya, hubungan antarnegara juga tumbuh dari hal-hal yang jauh lebih sederhana: dari seorang mahasiswa Timor-Leste yang belajar di Jepang, dari seorang relawan Jepang yang menyapa "Bondia" (selamat pagi, dalam bahasa Tetum) ketika berkunjung ke Dili, dari seorang petani di pegunungan yang memetik biji kopi dengan tangannya sendiri, atau dari secangkir kopi Timor-Leste yang diseduh di sebuah kedai kecil di Tokyo.

Di situlah persahabatan terasa nyata.

Penulis bersama Duta Besar Timor-Leste untuk Jepang di Tokyo
Penulis bersama Duta Besar Timor-Leste untuk Jepang, H.E. Maria Terezinha, serta jajaran diplomat dan staf Kedutaan saat kunjungan di Tokyo, April lalu. Di sela diskusi mengenai pengelolaan situs resmi Kedutaan, secangkir kopi hadir mencairkan suasana — membuktikan bahwa perbincangan diplomasi selalu terasa lebih dekat saat dinikmati bersama secangkir cerita.

Timor-Leste dan Jepang memang berbeda. Tetapi keduanya adalah bangsa kepulauan yang sama-sama pernah melewati masa sulit, mengenal kehilangan, dan tahu bahwa membangun kembali kehidupan membutuhkan waktu, kesabaran, dan keteguhan. Mungkin karena itulah hubungan keduanya terasa lebih dari sekadar hubungan diplomatik.

Dua Bangsa yang Ditempa Sejarah yang Berat

Ketika mendengar nama Jepang, yang terbayang mungkin Tokyo, kereta cepat, teknologi, dan gedung-gedung modern. Sementara ketika melihat Timor-Leste, yang terlihat adalah sebuah negara muda yang masih terus membangun: memperbaiki jalan, memperluas akses air bersih, meningkatkan pendidikan, dan membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi mudanya.

Perbedaannya nyata. Tetapi sejarah kedua bangsa ini juga saling bersinggungan — dan tidak selalu dengan cara yang mudah.

Selama Perang Dunia II, wilayah yang kini menjadi Timor-Leste — saat itu koloni Portugal yang dikenal sebagai Timor Portugis — berada di bawah pendudukan militer Jepang, sebuah periode yang meninggalkan penderitaan panjang bagi rakyatnya. Jepang sendiri, di sisi lain, mengalami kehancuran besar akibat perang yang sama, sebelum kemudian membangun kembali negaranya menjadi salah satu negara maju di dunia.

Justru di sinilah terletak sesuatu yang layak dihargai: kedua bangsa memilih untuk tidak terkurung oleh masa lalu. Setelah pendudukan Jepang berakhir pada 1945, Timor-Leste masih harus melalui perjalanan panjang lain — termasuk menjadi bagian dari Indonesia selama 1975 hingga 1999 — sebelum akhirnya meraih kemerdekaan penuh pada tahun 2002 melalui perjuangan dan keteguhan rakyatnya sendiri.

Bahwa Timor-Leste dan Jepang kini membangun hubungan yang erat dan saling menghormati, menunjukkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kerja sama teknis: kemauan dua bangsa untuk melangkah maju bersama, tanpa terbebani oleh bagian kelam dari sejarah mereka.

Kerja sama kemudian hadir dalam berbagai bentuk — pembangunan, pendidikan, infrastruktur, peningkatan kapasitas, hingga bantuan kemanusiaan. Tetapi di balik semua itu ada sesuatu yang tidak selalu tercatat dalam laporan resmi: rasa saling menghormati yang tumbuh perlahan, justru dari kesadaran akan sejarah yang pernah berat itu.

Diplomat Terhebat Kita Mungkin Ada di Lereng Gunung

Lalu, siapa yang sebenarnya memperkenalkan Timor-Leste kepada masyarakat Jepang?

Tentu ada para diplomat, ada pejabat yang melakukan kunjungan, ada pertemuan bilateral, dan ada berbagai forum resmi. Tetapi ada juga "diplomat" lain yang jarang kita sebut: para petani kopi.

Di lereng-lereng pegunungan Timor-Leste — di Ermera, Maubisse, dan wilayah lainnya — para petani bekerja dengan tanah, cuaca, dan waktu. Mereka mungkin tidak pernah duduk di meja diplomasi, tetapi hasil kerja mereka bisa melakukan perjalanan jauh hingga ke Jepang.

Ketika kopi Timor-Leste dipetik, diproses, dikirim, kemudian diseduh di sebuah kedai kopi di Tokyo atau Kyoto, yang hadir bukan sekadar secangkir minuman. Ada tanah Timor-Leste di dalamnya. Ada kerja keras petani. Ada kehidupan sebuah masyarakat. Ada cerita tentang sebuah negeri yang sedang membangun dirinya.

Kedai Lush Coffee mempromosikan kopi Timor-Leste di Tokyo Coffee Festival 2025
LUSH COFFEE, kedai kopi mini asal Jepang yang secara khusus mempromosikan kopi Timor-Leste dalam Tokyo Coffee Festival 2025. Festival tersebut digelar pada 31 Mei hingga 1 Juni 2025 di United Nations University (UNU), Aoyama, Tokyo, Jepang. (Sumber foto: Tatoli.tl)

Seorang pelanggan Jepang mungkin awalnya hanya datang untuk menikmati kopi. Tetapi setelah mengetahui bahwa kopi itu berasal dari Timor-Leste, ia mungkin mulai bertanya: Timor-Leste itu di mana? Seperti apa negaranya? Bagaimana kehidupan para petaninya?

Tidak ada pidato, tidak ada konferensi, tidak ada bahasa diplomatik yang rumit — hanya secangkir kopi yang membuka sebuah percakapan. Dan mungkin, di situlah salah satu bentuk diplomasi yang paling sederhana sekaligus paling kuat bekerja.

Berjalan Bersama, Bukan Berjalan di Belakang

Persahabatan yang sehat bukan tentang siapa yang lebih kuat dan siapa yang harus mengikuti. Ia tentang dua pihak yang bisa berjalan bersama.

Ketika para ahli Jepang berbagi pengetahuan dan pengalaman, masyarakat Timor-Leste memperoleh kesempatan untuk belajar. Ketika anak-anak muda Timor-Leste mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan atau pelatihan di Jepang, mereka tidak hanya membawa pulang pengetahuan, tetapi juga pengalaman tentang disiplin, cara bekerja, teknologi, dan cara melihat dunia.

Pada saat yang sama, Jepang pun mendapatkan sesuatu dari Timor-Leste: kesempatan untuk mengenal sebuah bangsa muda yang memiliki sejarah panjang, budaya yang kuat, dan semangat untuk menentukan masa depannya sendiri.

Di sinilah kata Tetum hamutuk — yang berarti "bersama" — terasa begitu bermakna. Bersama bukan berarti harus sama. Timor-Leste dan Jepang tidak harus memiliki ukuran negara, kekuatan ekonomi, bahasa, ataupun pengalaman sejarah yang sama. Yang penting adalah bagaimana keduanya dapat duduk sejajar, saling menghormati, saling belajar, dan mencari jalan yang membawa manfaat bagi kedua bangsa.

Bagi Timor-Leste, persahabatan dengan Jepang juga memberikan satu pelajaran penting: sebuah negara tidak harus besar untuk memiliki tempat yang berarti di dunia. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk terus belajar, menjaga martabat, menghargai sahabat, dan bekerja keras membangun negeri sendiri.

Pada akhirnya, persahabatan Timor-Leste dan Jepang tidak hanya hidup dalam angka perdagangan, proyek pembangunan, atau dokumen kerja sama. Ia hidup dalam manusia — dalam seorang mahasiswa Timor-Leste yang belajar jauh dari rumah, dalam seorang relawan Jepang yang datang ke sebuah desa, dalam seorang petani yang merawat pohon kopi di lereng gunung, dan dalam seseorang di Jepang yang untuk pertama kalinya mengenal Timor-Leste melalui secangkir kopi.

Penulis bersama Xanana Gusmão di Timor-Leste Penulis bersama Xanana Gusmão di Timor-Leste
Penulis bersama Xanana Gusmão di Timor-Leste, sekitar 12 tahun lalu. Timor-Leste bukan sekadar tempat bekerja, tetapi sudah seperti rumah kedua bagi penulis. Hampir setiap tahun sebelum pandemi, penulis menyempatkan diri berkunjung — termasuk menikmati secangkir kopi di Hotel Timor, sebuah kebiasaan yang selalu mengingatkan pada pesan Xanana untuk kembali lagi ke Timor-Leste.

Maka, ketika esok pagi kita menyeduh kopi, mungkin kita bisa menikmatinya sedikit lebih pelan. Barangkali, di balik aromanya, ada sebuah cerita dari tanah Timor — cerita tentang dua bangsa yang pernah mengenal luka sejarah yang berat, kemudian memilih untuk saling menghormati. Dua sahabat yang mungkin berbeda dalam banyak hal, tetapi sama-sama percaya bahwa masa depan akan menjadi lebih baik ketika dibangun bersama.