Ahsanta Web

Saya Tidak Mencari Issa di Tokyo—Tapi Saya Dipertemukan

Catatan perjalanan ke Masjid Camii Tokyo, dari kebingungan di stasiun hingga pertemuan yang tak pernah direncanakan.


Perjalanan yang Penuh Keraguan

Alhamdulillah… akhirnya sampai juga ke Masjid Camii Tokyo.

Masjid Camii Tokyo

Kalau diingat lagi, perjalanan ke sini sempat membuat saya ragu. Dari Iidabashi ke Shinjuku, lanjut ke Yoyogi-Uehara, lalu berjalan kaki menuju masjid. Bagi yang terbiasa mungkin ini hal sederhana, tapi bagi saya yang tidak fasih berbahasa Jepang, setiap perpindahan terasa seperti ujian kecil.

Menuju Masjdi Camii Tokyo

Papan petunjuk yang dipenuhi huruf Jepang, jalur kereta yang berlapis, hingga kekhawatiran salah arah—semuanya membuat saya harus ekstra waspada.

Beberapa kali saya berhenti sejenak. Memastikan dalam hati: ini sudah benar… atau belum?

Bantuan yang Datang Tanpa Diminta

Namun justru di tengah kebingungan itu, selalu ada bantuan yang datang.

Orang-orang yang saya temui, meski terbatas bahasa, tetap berusaha membantu. Bahkan dalam satu momen, dua anak muda dengan sabar mengantar saya sampai ke loket, hanya untuk memastikan saya tidak salah jalur.

Mereka tidak banyak bicara.

Tapi bantuannya terasa tulus.

Di situ saya mulai merasa… perjalanan ini seperti dipermudah.

Masjid yang Menenangkan Hati

Ketika akhirnya tiba di Masjid Camii Tokyo, suasananya langsung berbeda.

Dari luar, bangunan ini tampak megah dengan arsitektur khas Ottoman—kubah besar dan menara yang menjulang. Namun begitu melangkah masuk, yang terasa justru ketenangan.

Ruangnya hangat. Hening.

Seperti ada jeda dari hiruk-pikuk Tokyo.

Lalu azan berkumandang.

Alunannya khas Turki.
Pelan… dalam… dan entah kenapa langsung sampai ke hati.

Sejenak, semua rasa lelah seperti luruh.

https://ahsantaweb.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*