Ahsanta Web

LABIRIN TOKYO DAN BAHASA KALBU: HIKMAH DI BALIK TERSESAT DAN KEPEDULIAN DI LUAR NALAR

Perjalanan di Jepang kali ini rasanya menjadi rangkaian kontras yang luar biasa bagi diri saya. Semua bermula pada 15 April 2026, saat kaki ini mendarat di Haneda. Jujur saja, awalnya saya sempat salah menduga. Saat berkeliling Tokyo sejenak sebelum bertolak ke Gunma, saya membatin, “Kok Tokyo sepi ya?” Hal itu seolah membenarkan apa yang sering saya tonton di televisi tentang krisis populasi di negeri ini.

Sawatari Gunma

Puncaknya adalah saat saya tinggal di Sawatari. Suatu ketika, diadakan sebuah pesta kecil bersama masyarakat setempat. Betapa terkejutnya saya saat melihat bahwa hampir 90 persen yang hadir adalah para manula. Di sana, realitas tentang kekurangan penduduk bukan lagi sekadar berita, tapi pemandangan nyata yang saya saksikan sendiri.

Namun, prasangka saya soal “sepinya Tokyo” seketika runtuh saat saya melangkah ke Shibuya dan Harajuku. Di sanalah manusia seolah tumpah ruah, terutama di second street-nya. Menariknya, jika diperhatikan lebih dalam, jumlah turis asing di sana tidak kalah banyak dengan warga lokal. Bisa jadi, dominasi wisatawan mancanegara inilah yang menjaga Shibuya tetap menjadi lautan manusia seperti yang kita kenal dulu. Kontrasnya begitu tajam; dari sunyinya pedesaan Gunma menuju energi luar biasa di pusat kota. Di tengah hiruk-pikuk inilah, drama perjalanan saya hari ini, 21 April, dimulai.

ALMOND HOSTEL: INTEGRITAS DALAM KESEDERHANAAN

Pagi saya dimulai dengan syahdunya aktivitas di Tokyo Camii. Namun, ada satu momen kecil yang membuat saya tertegun saat kembali sejenak ke penginapan, ALMOND HOSTEL & CAFE, di seputaran Yoyogi Park. Di bawah cahaya pagi yang terang, saya menyaksikan para petugas kebersihan bekerja dengan sangat cekatan membereskan setiap sudut.

Almond & Hostel Coffee

Pantas saja, meski ini penginapan dengan harga paling hemat, kebersihannya luar biasa. Di sini saya belajar bahwa di Jepang, harga murah bukan alasan untuk pelayanan murahan. Integritas mereka dalam bekerja benar-benar jempolan. Jika suatu saat takdir membawa saya kembali ke kota ini, rasanya saya tidak akan ragu untuk memilih tempat ini lagi.

petugas cekatan

Petugas hostel sangat sigap bersihkan kamar

DRAMA DI BALIK GEMERLAP SHIBUYA

Drama sesungguhnya muncul saat saya berniat mencari sedikit buah tangan di tengah keramaian Shibuya. Saya menaiki kereta Chiyoda Line dari Stasiun Yoyogi-Uehara, namun karena salah arah, saya justru terdampar jauh di kawasan pemerintahan yang sunyi. Begitu kembali ke keriuhan Shibuya, kendala lain muncul: kartu debit saya berkali-kali ditolak oleh mesin ATM JAPAN POST BANK.

Mandiri Visa gagal

Di depan kasir, mata saya sempat mencari-cari logo QRIS, berharap keajaiban teknologi Indonesia ada di sana. Ternyata nihil. Di momen itu, saya membatin dengan bangga: Indonesia ternyata lebih maju dalam hal praktis ini. Di Tokyo yang katanya futuristik, saya justru harus bergelut dengan kartu agar transaksi bisa bekerja.

MAS PADLAN DAN KEBAIKAN YANG “DI LUAR NALAR”

Sebenarnya selama beberapa hari di Tokyo, saya sudah sering dibantu warga lokal. Namun, apa yang terjadi hari ini benar-benar di luar nalar. Saat saya kebingungan mencari arah di tengah lautan manusia, seorang anak muda Jepang secara sukarela mengantar saya berjalan kaki cukup jauh hingga mendekati tujuan.

Saat kami berpisah, meski saya tidak lagi menoleh, ada keyakinan kuat di hati ini bahwa ia terus memperhatikan langkah saya dari jauh. Ia memastikan saya benar-benar aman sebelum ia melanjutkan urusannya sendiri. Sebuah perhatian yang begitu dalam bagi seorang asing yang tak ia kenal.

Padlan, WNI asal Lombok

Mas Padlan, pria lajang asal Lombok, yang pernalkan saya ke Masjid Indonesia Tokyo (MIT)

Kebaikan serupa pun saya temukan pada sosok MAS PADLAN HUSAINI, seorang WNI asal Lombok yang sudah bekerja di Jepang selama empat tahun. Beliau dengan penuh kerelaan mengantar saya ke Masjid Tokyo Indonesia, lalu kembali menempuh perjalanan jauh menuju tempat kerjanya. Semoga ini menjadi amal jariyah untuk beliau. Pengalaman ini mengonfirmasi ucapan tulus beliau kepada saya:

Masjid Indonesia Tokyo (MIT)

“Orang Jepang itu kalau membantu tidak akan setengah-setengah. Mereka tidak akan melepasmu sampai mereka yakin kamu benar-benar sudah menemukan jalanmu dan aman.”

HIKMAH UNTUK DIBAWA PULANG

Malam ini, saya menutup hari dengan shalat Isya di Tokyo Camii. Di bawah kubahnya yang megah, saya merenung sebelum bersiap kembali ke Jakarta. Ada tiga hal yang saya simpan rapat-rapat dalam hati:\

Sesaat selepas isha di Massjid Camii Tokyo, sebelum berpisah kami sempatkan foto bersama

Setelah Isya di Masjid Camii Tokyo, kami berfoto bersama sejenak sebelum berpamitan.

  • KEPEDULIAN ADALAH BAHASA UNIVERSAL: Baik itu ketulusan para manula di Gunma, bantuan anak muda Jepang yang di luar nalar, hingga kebaikan Mas Padlan, mereka adalah pengingat bagi saya untuk terus membantu sesama tanpa pamrih.

  • INTEGRITAS ITU MENULAR: Petugas di penginapan dan penyapu jalanan mengajarkan kepada saya bahwa kejujuran dalam bekerja adalah kunci kenyamanan bersama.

  • BANGGA PADA RUMAH SENDIRI: Kadang saya harus pergi jauh untuk menyadari betapa hebatnya inovasi di negeri sendiri, seperti praktisnya QRIS.

Lusa, Kamis, 23 April pukul 02:20 dini hari, saya akan terbang dari Haneda (HND). Karena keterbatasan bagasi, saya memang tidak membawa banyak benda fisik untuk dibawa pulang. Namun, saya pulang membawa “oleh-oleh” yang jauh lebih berharga: hati yang penuh akan pelajaran kemanusiaan.

Setelah transit selama 23 jam di Changi (SIN), insya Allah saya akan mendarat di Jakarta (CGK) pada Jumat pagi, 24 April 2026.

Hikmah: Jangan takut tersesat. Di setiap sudut yang membingungkan, selalu ada tangan tulus yang siap menuntunmu. Mari kita juga menjadi “cahaya” bagi orang lain di sekitar kita, memastikan mereka aman sebelum kita melangkah pergi.


Catatan perjalanan Tokyo, 21 April 2026.

https://ahsantaweb.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*