Ahsanta Web

Dosa Jari yang Tak Disadari: Ketika Harga Murah Membunuh Dapur Tetangga

Pernah nggak, pas lagi iseng buka aplikasi belanja, mata langsung berbinar nemu daster, alat masak, atau kabel HP yang harganya “ajaib”? Cuma 10 ribu atau 15 ribu perak. Itu bahkan lebih murah dari sekali kita makan bakso di pinggir jalan.

Ilustrasi kontras belanja online murah di marketplace: di satu sisi pembeli bahagia mendapat diskon besar, di sisi lain pekerja kecil menjahit dalam kondisi berat—menggambarkan pertanyaan tentang siapa yang menanggung harga murah dan makna berkah di balik keranjang belanja.

Tanpa pikir panjang, jempol kita langsung klik check out. Rasanya puas banget bisa dapet barang dengan harga segitu. Tapi jujur deh, pernah nggak kita berhenti sebentar dan mikir pelan: “Kok bisa ya semurah itu? Terus, siapa yang sebenarnya rugi gara-gara harga ini?”

Pertandingan yang Nggak Seimbang

Kadang kita suka ngeluh, “Kenapa sih produk lokal mahal-mahal? Mending beli yang impor, sisanya bisa buat jajan yang lain.”

Tapi coba kita lihat lebih dekat. UMKM kita—tetangga sebelah yang jualan baju atau pengrajin di kampung sebelah—itu sebenarnya lagi dipaksa tanding lawan raksasa dunia di lapangan yang nggak adil. Di luar sana, pabrik-pabrik besar punya modal gede banget. Mereka bikin barang jutaan sekaligus dan bisa langsung jualan ke HP kita tanpa lewat toko lagi.

Sementara tetangga kita? Mereka masih beli bahan baku eceran, bayar listrik rumah tangga, dan bungkus paket sendiri di rumah. Kalau kita cuma ngejar harga yang paling murah tanpa peduli dari mana asalnya, sebenarnya jempol kita lagi pelan-pelan “matiin” usaha mereka.

Uang Kita: Mau Muter di Sini atau Terbang ke Sana?

Kita semua pengen rezeki kita berkah, kan? Nah, berkahnya uang itu sebenarnya ada di perputarannya. Uang itu kayak darah; kalau dia muter terus di badan kita, kita sehat. Tapi kalau dia keluar terus dan nggak balik lagi, ya kita lemas.

Bayangkan kalau kita beli barang buatan tetangga atau produk lokal. Uang itu nggak pergi jauh. Uang itu bakal dipakai si penjual buat belanja di warung sebelah, bayar sekolah anaknya, atau sedekah di masjid deket rumah kita. Uangnya “muter” di antara kita, menghidupkan banyak orang sekaligus.

Tapi, pas kita tergiur barang impor yang murahnya nggak masuk akal, uang kita itu “terbang” ke luar negeri dan nggak akan pernah balik lagi. Dia nggak akan bantu benerin jalan di depan rumah kita atau nyiptain lapangan kerja buat saudara-saudara kita di sini. Kita dapet barangnya, tapi kita kehilangan keberkahan dari putaran uangnya.

Ahsanta: Kebaikan di Tiap Klik Belanja

Berbuat baik  itu nggak selalu harus soal kasih sumbangan gede. Kadang, dia dimulai dari apa yang kita pilih di keranjang belanja.

Mungkin selisih harganya cuma 5 ribu atau 10 ribu lebih mahal kalau beli produk lokal. Tapi coba deh anggep selisih itu sebagai cara kita jagain supaya tetangga kita tetap bisa makan. Supaya usaha kecil di sekitar kita nggak gulung tikar. Inilah cara paling nyata buat memastikan saudara sendiri nggak tumbang di tanahnya sendiri.

Tanya Hati Sebelum Klik “Beli”

Kita nggak dilarang hemat, kok. Semua orang juga butuh ngatur duit supaya cukup buat sebulan. Tapi sebagai orang yang pengen hidupnya berkah, kita butuh lebih peka.

Ekonomi kita itu kayak satu tubuh. Kalau kaki kita (UMKM) mati rasa karena nggak pernah kita dukung, lama-lama seluruh badan kita bakal lumpuh. Pemerintah mungkin punya aturan, tapi keputusan terakhir sebenarnya ada di jempol kita masing-masing.

Jadi, sebelum jempol itu nekan tombol check out buat barang impor yang murahnya kebangetan, yuk tanya ke diri sendiri:

“Saya lagi bantu siapa hari ini? Lagi bantu pabrik raksasa di luar sana yang sudah kaya, atau lagi jagain supaya dapur tetangga saya tetap bisa ngepul?”

Mari lebih bijak. Karena kadang, “dosa jari” yang paling nyata adalah saat kita lebih milih memperkaya yang jauh, sementara saudara di depan mata lagi berjuang mati-matian cuma buat bertahan hidup (ahsantany)

https://ahsantaweb.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*