Ahsanta Web

Dari Dili ke Tokyo: Reuni yang Tertunda, Misi yang Akhirnya Tuntas

Kadang hidup bekerja dengan caranya sendiri—tenang, pelan, tapi pasti. Apa yang kita rencanakan berkali-kali tak kunjung terjadi, justru menemukan jalannya di waktu yang tak disangka. Perjalanan ini adalah salah satunya.

keluarga Ahsantany

Berawal dari pekerjaan yang saya cicil sejak akhir Desember, langkah kecil itu perlahan membawa saya ke Tokyo. Tapi sesampainya di sana, saya sadar: ini bukan sekadar perjalanan kerja. Ini tentang pertemuan yang lama tertunda, tentang keluarga, dan tentang misi yang akhirnya menemukan momentumnya.


Di Antara Dua Peran: Profesional dan Ayah

Semua dimulai dari kabar membahagiakan itu—anak perempuan kami mendapat kesempatan belajar bahasa dan budaya Jepang selama tiga bulan.

Sebagai orang tua, keputusan langsung jelas: saya harus mengantar.

Kami berangkat pada malam 14 April, transit di Singapura, lalu mendarat di Haneda keesokan paginya. Hari-hari pertama kami habiskan di Gunma, di sebuah tempat yang tenang—Ryumeikan Sawatari. Di sana, suasana seolah memberi jeda: sebelum saya kembali masuk ke ritme tanggung jawab berikutnya.

Ryumeikan, Traditional inn, Sawatari Gunma

Ryumeikan, Traditional inn, Sawatari Gunma

Tanggal 19 April, momen itu tiba.

Saya pamit. Bukan sekadar berpisah sementara, tapi juga menyerahkan sebuah fase baru dalam hidup anak kami. Dari sana, saya melanjutkan perjalanan ke Tokyo—kali ini sebagai seorang profesional yang membawa amanah.


Ketegangan Kecil di Pagi Hari

Senin pagi di Fujimi, Chiyoda-ku.

Timor Leste Embassy in Tokyo

Saya tiba lebih awal—sekitar dua puluh menit sebelum waktu yang dijanjikan—di depan kantor Kedutaan Besar Timor-Leste. Pintu utama masih tertutup. Karena tak ingin sekadar menunggu di luar, saya masuk lewat akses garasi.

Keputusan kecil yang ternyata menghadirkan sedikit drama.

Tak lama, seorang polisi Jepang datang untuk patroli rutin. Dalam hitungan detik, pikiran mulai berlari: apakah saya terlihat mencurigakan? Apakah ini akan jadi masalah?

Namun ketegangan itu tidak berlangsung lama.

Dengan sikap khas Jepang yang tertib sekaligus ramah, sang polisi menyapa dengan sopan. Situasi yang tadinya menegangkan berubah menjadi ringan. Dan tak lama setelah itu, pintu terbuka—Ms. Faviola menyambut saya dengan senyum hangat.

Kami baru pertama kali bertemu langsung, tapi suasananya seperti sudah lama saling kenal.


Reuni yang Akhirnya Terjadi

Dari rencana yang tak pernah terjadi di Bali, Dili, hingga Jakarta—akhirnya dipertemukan di Tokyo. Bersama Ibu Dubes dan tim, menutup penantian panjang dengan kolaborasi yang bermakna.

Di dalam ruangan, Ibu Dubes—H.E. Maria Terezinha da Silva Viegas—menyambut dengan kalimat yang langsung mengikat semua potongan cerita:

“Rencana ketemunya di Bali tidak jadi, di Dili tidak jadi, di Jakarta pun tidak. Ternyata kita baru benar-benar bertemu di sini, di Tokyo.”

Kalimat itu bukan sekadar pembuka. Ia seperti penutup dari penantian panjang.

Ingatan saya langsung kembali ke Dili, tahun 2015. Saat itu beliau masih menjabat sebagai Sekretaris Negara, dan kami cukup sering berdiskusi—karena saya tengah menyusun buku biografi beliau. Beberapa kali kami mencoba mengatur pertemuan lanjutan, tapi selalu tertunda.

Dan akhirnya, justru di Tokyo—jauh dari Dili, jauh dari Jakarta—pertemuan itu terjadi.

Lengkap. Tepat waktu.


Mencari “Roh” dalam Sebuah Website

Bersama dubes Timor Leste untuk JepangPertemuan berlangsung hangat, tapi tetap fokus.

Turut hadir Mr. Célio Moniz sebagai Counsellor, bersama tim Kedubes: Ms. Faviola Henriques da Cruz, Mr. João Mendonça, dan Ms. Ana Catarina. Suasana diskusi terasa cair—tidak kaku, tidak formal berlebihan, tapi tetap produktif.

Saat masuk ke pembahasan utama—website Kedutaan—saya memilih untuk jujur sejak awal.

Bahwa website yang sudah tayang itu belum sepenuhnya “milik mereka”. Masih ada sudut pandang kami di dalamnya. Masih ada ruang yang perlu diselaraskan.

Dan dari situlah diskusi menjadi hidup.

Ibu Dubes menyampaikan satu hal yang sangat menarik: beliau ingin website ini punya “roh” seperti Jepang—rapi, disiplin, sistematis, dan jelas arah komunikasinya.

Bukan sekadar informatif. Tapi merepresentasikan karakter.

Kami pun mulai membedahnya bersama. Dari pembagian peran antara media sosial dan website, sampai bagaimana menampilkan narasi yang lebih kuat—termasuk kisah para investor Jepang di Timor-Leste.

Di titik itu, saya merasa: ini bukan lagi sekadar proyek digital. Ini adalah diplomasi.


Bahasa yang Menyatukan

Setelah diskusi selesai, kami makan siang bersama.

Di situlah suasana berubah sepenuhnya—lebih ringan, lebih personal, lebih “manusia”.

Yang paling membekas justru bukan topik pembicaraannya, tapi bahasanya.

Sepanjang hari itu, kami menggunakan bahasa Indonesia.

Di tengah Tokyo yang modern dan serba cepat, bahasa itu hadir sebagai pengikat yang sederhana tapi kuat. Ia membawa ingatan, sejarah, dan rasa kedekatan yang tidak bisa dijelaskan dengan data atau diplomasi formal.

Ada sesuatu yang terasa hangat di situ.

Seolah-olah jarak negara menjadi tidak relevan.


Pulang dengan Lebih dari Sekadar Hasil Kerja

Saat waktunya pamit, saya melangkah keluar dari kantor Kedubes dengan perasaan yang berbeda.

Bukan hanya karena pekerjaan selesai.

Tapi karena perjalanan ini memberi lebih dari yang saya bayangkan.

Saya datang membawa daftar pekerjaan. Saya pulang membawa rasa.

Tentang pertemuan yang akhirnya terjadi. Tentang kepercayaan yang dibangun. Dan tentang bagaimana sebuah website—yang terlihat teknis di permukaan—sebenarnya adalah wajah, suara, dan hati dari sebuah negara.

Di sisi lain, saya juga meninggalkan satu bagian hati di Gunma—bersama anak perempuan kami yang sedang memulai perjalanannya sendiri.

Dan mungkin, di situlah makna perjalanan ini menjadi utuh:

Bahwa hidup bukan tentang memilih antara keluarga atau pekerjaan. Tapi tentang bagaimana keduanya bisa berjalan berdampingan, saling menguatkan, dan pada akhirnya—membentuk cerita yang layak untuk dikenang.

https://ahsantaweb.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*