
Wali Songo di Negeri Sakura: Dakwah Rasa Muhammad Al-Hakim
“Mas, saya orang Indonesia.”
Kalimat itu meluncur spontan tepat saat saya sudah bersiap menyapa beliau dengan bahasa Inggris. Jujur saja, melihat perawakannya di pelataran Masjid Camii Tokyo hari itu, saya mengira beliau adalah warga lokal atau keturunan Turki. Namun, jawaban dalam bahasa ibu itu seketika mencairkan suasana dan menjadi awal dari diskusi yang memberikan jawaban atas segala keheranan saya selama di Jepang.
Sosok tersebut adalah Muhammad Al-Hakim. Di Jakarta, beliau dikenal sebagai seorang Sensei Aikido, namun di Jepang, beliau sedang menjalankan misi yang jauh lebih dalam: menghidupkan kembali strategi dakwah “Wali Songo” di pusat modernitas dunia. Bagi saya, perjumpaan ini adalah kunci yang membuka rahasia di balik pengalaman luar nalar saya selama tinggal di pedesaan Jepang.
Strategi Sunan Kalijaga di Negeri Sakura
Obrolan saya dengan Sensei Al-Hakim membuka cakrawala baru. Beliau meyakini bahwa berdakwah di Jepang tidak bisa dilakukan dengan cara yang “asing” atau kaku. Mengambil inspirasi dari pendekatan Sunan Kalijaga, Al-Hakim menekankan pentingnya membuat masyarakat lokal “melihat diri mereka sendiri” dalam nilai-nilai Islam.
“Budaya Jepang itu sangat mirip dengan budaya Jawa, mereka sangat menjaga identitas,” tuturnya.
Itulah mengapa visi besarnya adalah menghadirkan masjid dengan arsitektur rumah tradisional Jepang (Minka). Beliau ingin Islam terasa seperti “rumah” yang hangat bagi warga lokal, bukan sesuatu yang asing dan mengintimidasi.
Makoto: Saat Hati Bertemu Hati
Al-Hakim berbagi satu rahasia besar tentang masyarakat Jepang: Mereka adalah People of the Heart. Beliau bercerita tentang momen indah ketika guru Aikidonya—seorang Jepang asli—menegur kekhusyukan shalatnya. Bagaimana mungkin? Jawabannya adalah Makoto.
Apa itu Makoto? Dalam budaya Jepang, Makoto (誠) bukan sekadar jujur secara lisan. Ia adalah ketulusan batin yang paling dalam—sebuah kondisi di mana ucapan, tindakan, dan hati berada dalam satu garis lurus. Orang yang memegang prinsip Makoto melakukan kebaikan bukan karena diawasi atau demi imbalan, tapi karena hatinya terpanggil untuk melakukan hal yang benar.
Validasi dari Sawatari: Melampaui Imajinasi
Mendengar penjelasan Sensei Al-Hakim, ingatan saya langsung melayang ke beberapa hari sebelumnya saat saya tinggal bersama sebuah keluarga di Sawatari, Gunma. Cara mereka menyambut, melayani, dan bersikap benar-benar di luar nalar dan melampaui imajinasi saya.
Selama di sana, saya merasakan layanan yang begitu tulus hingga sulit dinalar dengan logika transaksional. Ternyata, itulah Makoto yang mendarah daging. Mereka tidak sedang “memberi layanan”, mereka sedang mempraktikkan “ketulusan batin”.
Fajar di Meguro: Jejak Ukhuwah Pak Susiono
Nilai ketulusan ini pun saya temukan kembali melalui Mas Padlan Husaini, pemuda asal Lombok yang dengan tulus mengantarkan saya menembus dinginnya fajar menuju Masjid Indonesia Tokyo (MIT) di Meguro. Di sana, saya bertemu Pak Susiono, saksi hidup perjuangan Muslim Indonesia selama lebih dari 24 tahun di Jepang.
Pak Susiono menjaga semangat JMS (Jemaah Makan Selalu)—sebuah diplomasi meja makan yang memastikan para pemuda magang Indonesia tidak hanya kenyang perutnya, tapi juga tenang hatinya karena merasa memiliki keluarga baru di perantauan.
Integritas yang Melampaui Batas
Benang merah ketulusan ini pun saya temui pada sosok Toto Kaneda Rich di Bandara Haneda. Pak Toto adalah bukti hidup bahwa modal nekat 10.000 Yen bisa berubah menjadi kepercayaan besar dari para Shachou (bos) Jepang jika dibarengi dengan kejujuran dan loyalitas tanpa batas.
Oleh-oleh untuk Indonesia
Perjalanan ini memberi saya cermin besar. Di tengah Tokyo yang serba canggih, saya justru merasa bangga pada kepraktisan QRIS Indonesia yang terasa lebih maju. Namun, dari Al-Hakim dan pengalaman di Gunma, saya belajar bahwa inovasi teknologi sekeren apa pun harus selalu dibarengi dengan kedalaman rasa.
Saya pulang dengan satu keyakinan: Jangan takut tersesat. Karena di Jepang—seperti karakter masyarakatnya yang memegang teguh Makoto—selalu ada tangan yang tidak akan melepasmu sampai mereka yakin kamu benar-benar aman.
Tentang Ahsanta Web
Ahsanta Web adalah layanan profesional di bidang pembuatan, pengelolaan, dan pengembangan website dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Kami menghadirkan konten yang berbobot, struktur yang efektif, serta pengalaman pengguna yang fungsional.
Dikelola langsung oleh praktisi konten berpengalaman, kami melayani pembuatan artikel SEO hingga biografi tokoh dengan nilai komunikasi yang kuat. Kami juga melayani liputan berbasis pengalaman langsung dari luar negeri untuk menghadirkan konten otentik bagi bisnis Anda.
Siap Bekerja Sama? Kami siap membantu kebutuhan digital Anda secara profesional dan terukur.
WhatsApp: +62 813-1541-1984
Email: ahsantaweb@gmail.com
Layanan Utama: Website Development, Artikel SEO, Biografi Tokoh, Manajemen Website.
