Sisi Lain Jaket Hijau yang Mulai Memudar: Dari Prihatin Menuju Jalan Keluar
Coba deh perhatikan wajah driver ojol yang nganter makanan atau jemput kita belakangan ini. Kalau diperhatiin baik-baik, capek di muka mereka sekarang beda. Lebih berat. Bahkan jaket hijaunya pun banyak yang mulai pudar, kayak masa-masa enak mereka beberapa tahun lalu.

Dulu, sekitar 2018-an, cerita driver bisa bawa pulang Rp500 ribu sehari itu bukan dongeng. Memang ada. Bahkan ada yang rela narik sampai malam karena hasilnya masih terasa banget buat keluarga di rumah.
Sekarang?
Narik dari pagi sampai malam kadang cuma cukup buat muter modal. Bensin naik, potongan aplikasi makin besar, bonus makin susah dikejar. Ujung-ujungnya yang dibawa pulang tinggal sisa tenaga.
Padahal mereka bukan malas. Mereka ini orang-orang yang tiap hari tahan panas, hujan, debu, macet, bahkan risiko kecelakaan di jalan. Masalahnya memang aturan mainnya yang berubah total.
Kenyataan yang Jarang Kelihatan
Dulu aplikasi bakar uang besar-besaran. Penumpang dimanja promo, driver dibanjiri bonus. Sekarang masa itu selesai. Perusahaan mulai fokus cari untung, dan yang paling kena dampaknya ya para driver.
Potongan makin besar. Bonus berubah jadi target poin yang bikin driver harus narik lebih lama. Kadang sudah muter seharian, poin tetap nggak nutup.
Belum lagi sistem yang makin nggak jelas. Rating turun sedikit, akun bisa sepi order. Cancel karena ban bocor pun kadang tetap kena dampak. Driver sering bingung karena semuanya diatur algoritma, tapi penjelasannya minim.
Sementara itu, penumpang sekarang punya banyak pilihan. Angkutan umum makin nyaman, motor listrik mulai murah, orang juga makin hemat pengeluaran. Jadi orderan ojol nggak seramai dulu.
Hitung-hitungan yang Bikin Sesak
Misalnya sehari driver dapat Rp400 ribu kotor. Kedengarannya lumayan, tapi coba dihitung lagi.
Bensin.
Makan di jalan.
Rokok atau kopi biar nggak ngantuk.
Kuota internet.
Parkir.
Belum servis motor, oli, kampas rem, ban yang aus tiap hari dipakai muter kota.
Kadang habis Rp100โ150 ribu begitu saja. Jadi yang benar-benar masuk ke rumah sering jauh lebih kecil dari yang dibayangkan orang.
Yang lebih ngeri, kerja beginian nggak ada jaminan. Hari ini sakit atau motor mogok, hari itu juga nggak ada pemasukan.
Jalan Keluar: Driver Jangan Cuma Bergantung Sama Aplikasi
Sekarang banyak driver mulai sadar: kalau cuma ngandelin aplikasi, lama-lama capek sendiri.
Makanya beberapa mulai cari jalan lain.
Cari Pelanggan Tetap
Ini yang sekarang paling masuk akal.
Pas nganter makanan atau barang, banyak driver mulai ninggalin nomor WhatsApp ke pelanggan yang cocok.
Lama-lama jadi langganan pribadi.
Ada yang akhirnya rutin nganter anak sekolah. Ada yang jadi kurir tetap warung makan. Ada juga yang dipanggil langsung pelanggan tanpa lewat aplikasi.
Hasilnya lebih enak karena nggak kepotong komisi gede.
Jangan Narik Asal Muter
Driver sekarang juga mulai pintar pilih jam rame.
Pagi di area kantor.
Siang dekat kuliner.
Malam nongkrong di tempat yang order makanannya tinggi.
Jadi bensin nggak habis buat muter tanpa arah.
Tekan Pengeluaran Sebisa Mungkin
Sekarang yang kuat bukan cuma yang rajin narik, tapi yang paling bisa hemat pengeluaran.
Makanya banyak yang mulai mikir pindah ke motor listrik karena biaya cas lebih murah daripada bensin harian.
Kita Juga Bisa Bantu
Kadang kita mikir tips Rp10 ribu itu kecil. Padahal buat driver, itu bisa jadi tambahan bensin buat besok pagi.
Kalau drivernya ramah dan kerjanya bagus, nggak ada salahnya kasih lebih sedikit.
Kalau ada driver yang nawarin jasa antar pribadi dengan sopan dan profesional, simpan nomornya. Siapa tahu nanti kepakai.
Hal-hal kecil begitu sebenarnya bisa bantu mereka pelan-pelan lepas dari sistem yang makin berat.
Karena pada akhirnya, mereka bukan sekadar โdriver aplikasiโ. Mereka juga kepala keluarga yang lagi berjuang cari makan di tengah keadaan yang makin susah.
Dan kadang, bantuan paling berarti bukan rasa kasihan โ tapi keberpihakan yang benar-benar nyata.
