
“Mas, Saya Orang Indonesia”, Cerita Tak Sengaja Ketemu Sensei Aikido yang Berdakwah di Jepang
Saya tidak menyangka, pertemuan paling bermakna di Jepang…
justru terjadi beberapa jam sebelum pulang.
Tanggal 22 April. Saya sudah berdiri di Masjid Camii Tokyo, dengan satu pikiran: pulang ke Bandara Haneda.
Semua sudah selesai.
Lalu saya melihat seorang pria—tegap, wajahnya “Turki banget”.
Saya sapa dengan bahasa Inggris.
Dia tersenyum, lalu berkata pelan:
“Saya orang Indonesia, Mas.”
Di situ, perjalanan saya yang hampir selesai… seperti dimulai lagi.
Namanya Muhammad Al-Hakim.
Tinggal di Bintaro. Tapi hidupnya sebagian ada di Jepang.
Seorang Sensei Aikido.
Dan diam-diam, seorang pendakwah.
Ketika Dakwah Tidak Perlu Terlihat
Sensei Al-Hakim tidak berbicara tentang dakwah dengan cara yang kita bayangkan.
Beliau justru bercerita tentang satu hal yang sangat Jepang:
Makoto — ketulusan yang bisa dirasakan, bahkan tanpa kata.
Pernah suatu hari, gurunya di dojo—yang bukan Muslim—menegur,
“Salatmu tidak khusyuk.”
Bukan karena salah gerakan.
Tapi karena tidak terasa.
Di situ beliau sadar:
di Jepang, orang mungkin tidak mengenal Islam,
tapi mereka bisa mengenali ketulusan.
Sejak itu, cara berdakwahnya berubah.
Bukan membuat Jepang menjadi “asing”,
tapi menghadirkan Islam dengan rasa yang mereka pahami.
Seperti cara Sunan Kalijaga dulu berjalan—pelan, halus, tapi mengakar.
Salah satu mimpinya sederhana:
membangun masjid yang bentuknya seperti rumah Jepang.
Agar orang yang masuk tidak merasa datang ke tempat lain—
tapi merasa pulang.
Negeri yang Sepi, Negeri yang Penuh
Percakapan itu seperti menjelaskan semua yang saya lihat selama perjalanan.
Di Sawatari, saya pernah duduk di sebuah acara.
Hangat. Ramai. Tapi hampir semua yang hadir adalah lansia.
Sunyi yang tidak berisik.
Beberapa hari setelahnya, saya berdiri di Shibuya Crossing.
Lautan manusia bergerak tanpa jeda.
Padat. Cepat. Melelahkan.
Dua wajah Jepang.
Keduanya nyata.
Futuristik, Tapi Tidak Selalu Praktis
Ada satu momen kecil yang justru membuat saya tersenyum sendiri.
Di Tokyo, saya kesulitan dengan ATM dan kartu debit.
Di negara yang disebut maju, saya justru merasa… ribet.
Dan anehnya, saya langsung teringat Indonesia.
Terutama QRIS.
Yang sering kita anggap biasa,
ternyata sangat memudahkan.
Kadang, kita memang harus pergi jauh dulu
untuk menghargai apa yang kita punya.
Menolong, Sampai Benar-Benar Selesai
Tapi dari semua pengalaman itu, yang paling membekas bukan kota.
Melainkan orang-orangnya.
Dari staf di Almond Hostel & Cafe Shibuya,
sampai Mas Padlan dari Lombok,
dan seorang pemuda Jepang yang menuntun saya saat tersesat.
Bukan sekadar memberi arah.
Mereka berjalan bersama saya.
Cukup jauh.
Tanpa tergesa.
Sampai benar-benar yakin saya aman.
Di situ saya belajar satu hal sederhana—
yang jarang diajarkan, tapi terasa:
Kalau membantu, jangan setengah-setengah.
Oleh-oleh yang Tidak Masuk Koper
Saya pulang ke Indonesia tanpa banyak barang.
Tapi hati saya penuh.
Saya belajar bahwa dakwah bukan soal suara yang paling keras,
tapi tentang memahami “detak” manusia di hadapan kita.
Saya belajar bahwa kemajuan bukan hanya soal teknologi,
tapi juga soal ketulusan.
Dan yang paling jujur—
saya belajar bahwa tersesat tidak selalu buruk.
Karena justru di sanalah,
kita sering dipertemukan dengan arah…
dan orang-orang baik yang tidak pernah kita rencanakan.
