
Lelaki Bone di Pelataran Tokyo Camii
Sebuah perjalanan sering kali menyimpan kejutan terbaiknya justru di menit-menit terakhir. Siang itu, Rabu, 22 April 2026, sekitar pukul 13.00 waktu Tokyo, langkah saya tertuju ke Masjid Tokyo Camii. Sebelum bergegas menuju Bandara Haneda untuk kembali ke Jakarta, saya berniat menunaikan salat Zuhur terakhir di sana, sekaligus berpamitan dengan salah satu sudut paling damai di Tokyo ini.
Namun, suasana tenang masjid di jam tersebut tiba-tiba berubah menjadi hangat dan hidup.
Pertemuan yang Tak Terduga
Sesaat menjelang azan Zuhur berkumandang, saya melihat serombongan anak-anak sekolah berjalan tertib memasuki area masjid. Mereka didampingi oleh seorang pria dewasa yang tampil rapi dan necis, memberikan kesan profesional sekaligus bersahabat. Sosok inilah yang menarik perhatian saya, hingga akhirnya kami berkenalan dan melanjutkan perbincangan mendalam setelah salat usai.
Beliau adalah Akrim Said, pria ramah yang secara usia terpaut sekitar dua dekade di bawah saya. Meski kami berbincang di jantung megapolitan Tokyo, saya menangkap sesuatu yang akrab dalam tutur katanyaโsebuah dialek yang mengingatkan saya pada hangatnya tanah Sulawesi Selatan. Dan benar saja, sosok yang kemudian saya sapa dengan panggilan Adinda Akrim ini adalah putra asli Bone yang kini sedang merajut pengabdian di negeri Sakura.
Misi Pendidikan di Jantung Internasional
Dalam obrolan kami siang itu, Dinda Akrim bercerita bahwa setiap hari ia menempuh perjalanan sekitar 40 menit menuju kawasan ini. Ia bukan sekadar pengunjung, melainkan salah satu penggerak di sekolah internasional yang berdiri anggun tepat di samping masjidโanak-anak yang saya lihat tadi adalah murid-muridnya. Ada satu hal yang ia luruskan dengan penuh semangat saat kami menatap bangunan sekolah tersebut.
“Banyak yang mengira ini sekolah khusus Turki, Pak,” ujarnya tersenyum. Ia menjelaskan bahwa meski berada di kompleks Kedutaan Turki, sekolah yang berdiri sejak 2017 itu adalah institusi internasional yang kini menjadi rumah bagi hampir 200 murid dari berbagai bangsa dan latar belakang.
Meluaskan Kiprah: Dari Santri Menuju Global
Mendengar ceritanya, saya melihat potret nyata bagaimana anak muda kita mampu bersaing di kancah dunia. Alumnus Pondok Pesantren Modern Islam Shohwatul Isโad Pangkep ini ternyata adalah peraih gelar Master of Science dari Chiba University.
Setelah sempat mengabdi di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) di Meguro, dorongan untuk “meluaskan kiprah” membawanya keluar dari zona nyaman. Ia memilih untuk terjun langsung ke lingkungan pendidikan internasional yang lebih heterogen, membawa etos kerja dan nilai-nilai santri ke tengah keberagaman dunia.
Simbol Persahabatan dan Sebuah Refleksi
Sambil mendengarkan penuturannya, saya menatap menara masjid yang menjulang megah di bawah langit Tokyo. Adinda Akrim mengingatkan saya kembali bahwa tanah tempat kami berdiri ini adalah hadiah dari pemerintah Jepang untuk Turkiโsebuah simbol persahabatan yang melampaui batas bangsa dan keyakinan.
Pertemuan singkat ini menjadi penutup perjalanan sepuluh hari saya di Jepang yang sangat berkesan. Saya pulang tidak hanya membawa kenangan tentang kemajuan teknologi Tokyo, tapi juga kebanggaan melihat seorang adik, sesama putra bangsa, yang sedang membangun jembatan peradaban melalui jalur pendidikan di negeri orang.
Ternyata, di balik dinginnya udara Tokyo, ada kehangatan dedikasi seorang guru Indonesia yang terus menyala. Terima kasih, Dinda Akrim, untuk pertemuan yang mencerahkan ini.
Tokyo, 22 April 2026
