Mengenal Dr. Hamid Choi: Sosok di Balik 7 Tahun Perjalanan “Menyambung” Arab dan Korea
Pernahkah Anda membayangkan seseorang menghabiskan waktu tujuh tahun hidupnya hanya untuk bergulat dengan kata-kata? Kedengarannya sangat lama, bukan? Namun, bagi Dr. Hamid Choi Yong-kil, tujuh tahun adalah waktu yang pantas demi sebuah misi besar: menghadirkan pesan suci ke dalam bahasa ibunya sendiri.

Jejak Sang Pionir dari Madinah
Dr. Hamid bukan orang sembarangan. Beliau mencatatkan sejarah sebagai orang Korea pertama yang menuntaskan studi di Universitas Islam Madinah. Namun, gelar doktor yang diraihnya tidak membuatnya cepat puas. Pulang ke Korea, beliau justru melihat sebuah celah: banyak orang di negaranya yang penasaran tentang Islam, tapi terbentur tembok bahasa. Saat itu, literatur yang ada sering kali terasa “asing” karena bukan diterjemahkan langsung dari sumber aslinya.
Ketulusan dalam Setiap Baris Kalimat
Di sinilah dedikasi Dr. Hamid diuji. Beliau memutuskan untuk menerjemahkan Al-Qur’an dan Sahih Bukhari—kumpulan hadis yang menjadi rujukan penting—langsung dari bahasa Arab ke bahasa Korea.
Bayangkan ketelitiannya; beliau tidak ingin ada satu makna pun yang meleset. Selama tujuh tahun, profesor dari Myongji University ini menimbang setiap kata agar tidak hanya akurat secara agama, tapi juga enak dibaca oleh orang Korea modern. Hasilnya? Beliau menjadi putra Korea pertama yang berhasil membuka gerbang literasi tersebut secara lengkap dan kredibel.
Pena yang Tak Pernah Berhenti Mengalir
Semangat Dr. Hamid tidak berhenti pada proyek terjemahan itu saja. Hingga saat ini, ada lebih dari 90 judul buku yang lahir dari tangan dinginnya. Koleksi bukunya mencakup banyak hal, mulai dari sejarah hingga panduan hidup, yang semuanya ditulis dengan bahasa yang jernih. Beliau ingin memastikan siapa pun di Korea—baik itu mahasiswa, peneliti, atau masyarakat umum—bisa mengakses informasi yang objektif dan benar.
Membangun Jembatan Melalui Tulisan
Apa yang dilakukan Dr. Hamid Choi adalah bukti bahwa sebuah perubahan besar bisa lahir dari ketekunan di balik meja kerja yang sunyi. Lewat tulisan-tulisannya, beliau telah membangun jembatan intelektual yang menghubungkan budaya Timur Tengah dan Asia Timur. Kini, berkat dedikasinya, Islam bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang “jauh” di seberang samudra, melainkan sesuatu yang bisa dipelajari dengan akrab melalui bahasa ibu masyarakat Korea sendiri.

Pena yang Tak Pernah Berhenti Mengalir